Khoirul86’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Empat Aspek Berbahasa

Aspek Mekanis Membaca <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } H3 { margin-top: 0.19in; margin-bottom: 0.19in; page-break-after: auto } H3.western { font-family: “Times New Roman”, serif; font-size: 13pt } H3.cjk { font-family: “Lucida Sans Unicode”; font-size: 13pt } H3.ctl { font-family: “Tahoma”; font-size: 13pt } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Membaca

Aspek Mekanis Membaca

Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca.

Lou E. Burmeister (1978), seorang pakar pendidikan bahasa Universitas Texas di El Paso, dalam Improving Speed of Comprehension in Reading mengawali uraiannya tentang Aspek Mekanis Membaca dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Bagaimana mata seseorang bergerak ketika mereka membaca? Apakah mata tersebut bergerak dengan lembut, seperti ketika mengawasi seekor burung yang sedang terbang atau menyaksikan pesawat terbang yang sedang mendarat? Atau apakah mata bergerak, berhenti, bergerak, berhenti lagi, bergerak lagi dan berhenti lagi?

Penelitian dalam ranah ini jelas menarik bagi para ilmuwan pendidikan yang banyak berhubungan dengan masalah penelitian akademis, sedangkan hasilnya diperkirakan banyak menarik minat para instruktur pengajaran bahasa yang lebih banyak berkiprah dalam ranah yang jauh lebih bersifat praktikal.

Salah satu metodologi yang digunakan untuk meneliti pergerakan mata, yang menurut penggagasnya dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja dalam kelas pengajaran bahasa, adalah dengan meminta salah seorang memperhatikan mata seseorang ketika dia sedang membaca. Apakah mata si pembaca bergerak dengan lembut? Jika mata tersebut bergerak dengan lembut, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak sedang membaca, kata Lou E. Burmeister.

Lebih jauh pakar pendidikan ini mengatakan bahwa dalam kenyataannya, tentu saja berdasarkan hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kata (atau kata-kata) hanya dapat dibaca apabila mata tidak bergerak. Hanya apabila mata berhenti bergerak, atau terpusat pada satu bagian dari kata, pada satu kata, atau pada satu frase, maka barulah si pembaca mendapatkan apa yang dinamakan citra visual. Berikutnya, jika memang dikehendaki mata akan bergerak untuk kemudian berhenti lagi jika si pembaca ingin mendapatkan citra visual yang lain. Atau dengan kata lain, dalam membaca mata seorang pembaca haruslah berhenti, bergerak, berhenti lagi, bergerak lagi, dan seterusnya, jika dia menginginkan memahami apa yang dibacanya.

Dalam keadaan sebenarnya, khususnya ketika seseorang membaca secara berkelanjutan dan bukannya hanya satu kata saja, proses berhenti dan bergerak ini mungkin memerlukan waktu tidak lebih dari seperenam detik. George D. Spathe (1962) dalam Is This a Breakthrough in Reading? menyatakan bahwa lebar rentang jarak yang diperlukan sepasang mata dalam membaca tidak dapat melebihi tiga kata, atau dengan kata lain seorang pembaca yang paling cepat sekali pun, berdasarkan hasil penelitian ini, tidak akan mampu membaca lebih banyak dari tiga kata dalam satu periode tertentu sebelum dia menggerakkan kembali matanya menuju ke kelompok kata yang lain.

Dengan memahami kenyataan sederhana ini, yang semakin lama cenderung semakin dilupakan oleh para pengajar bahasa, diharapkan para pengajar dapat bersikap lebih arif jika mereka menggunakan sarana bacaan untuk mengajar murid-muridnya.

Setelah membaca tiga kata, mata pembaca harus bergerak pada kumpulan tiga kata berikutnya. Pergerakan inilah yang oleh para pakar pendidikan bahasa dinamakan saccadic sweep, sebuah pergerakan yang membutuhkan waktu paling cepat sekitar 1/30 detik. Waktu ini hanya dapat dilakukan oleh seorang pembaca yang baik dan tentunya waktu ini akan bertambah jika dilakukan oleh pembaca yang kurang baik.

Jadi, jika hasil kedua penelitian ini digabungkan, akan didapatkan bahwa jumlah waktu total yang dibutuhkan oleh seorang pembaca yang baik untuk membaca tiga buah kata dan kemudian berpindah pada kelompok tiga kata berikutnya adalah seperenam detik ditambah sepertiga puluh detik atau sama dengan seperlima detik. Atau dengan kata lain, dalam satu detik, seorang pembaca yang baik diperkirakan mampu membaca sekitar 15 kata, atau sekitar 900 kata dalam satu menitnya. Sebuah angka yang fantastis, bukan?

Tetapi dalam kenyataannya kemudian terbukti bahwa angka ini sulit sekali dicapai jika diingat bahwa kalimat-kalimat dalam satu bacaan tidak selalu berkelompok tiga-tiga, sehingga seorang pembaca harus melakukan gerakan saccadic sweep lebih banyak lagi untuk satu baris dan ini bermakna mengurangi jumlah kata yang mampu dibaca seseorang dalam satu menit.

Bagaimana Cara Mengenalkan Membaca Kepada Anak ?

Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca. Nah, bagaimana caranya membuat anak kita gemar membaca?

Kenalkan buku sejak dini

Buku cerita yang cocok untuk balita adalah yang memiliki banyak gambar dengan tulisan yang sedikit. Gambar yang berwarna akan lebih menarik daripada gambar yang hitam putih. Biarkan anak memilih sendiri buku yang ingin dibacanya, sehingga ia lebih antusias dalam membaca.

Bacakan buku cerita dengan menarik

Dalam membaca cerita, usahakan sehidup mungkin sehingga anak dapat merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut. Atur nada suara dan bumbui dengan gerakan-gerakan tubuh yang berekspresi untuk membangun suasana yang hidup. Bahkan bayi pun dapat menikmati buku yang dibacakan, yaitu dari irama suara dan kehangatan tubuh pembaca yang memangkunya.
Model orang tua

Orang tua harus menjadi contoh yang baik. Bila orang tua gemar membaca, menyediakan bacaan yang memadai dan mengatur suasana rumah yang mendukung untuk membaca, maka niscaya anak akan ikut gemar membaca.

Menulis

Begitu banyak jenis tulisan kalau kita mau menggolong-golongkannya. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada berita hardnews dan analisa. Ada pula biografi, esai, artikel, skrip radio dan teve, editorial, weblog, surat cinta dan segudang lainnya. Jangan lupa, ada yang berkaitan dengan bisnis, seperti surat penawaran, minutes meeting, dan ribuan jenis business letter.

Lupakan dulu kategorisasi yang memusingkan kepala. Karena sebagian besar jenis tulisan bisa dikatakan baik dan benar bila memenuhi rumus baku yang sama. Yakni 5W + 1H. Itulah rumus sakti yang menjadi pegangan saya ketika menjadi jurnalis di Bisnis Indonesia, majalah PROSPEK dan terakhir di majalah SWA (ya, profesi awal saya adalah jurnalis, kurang lebih lima tahun saya menjalaninya dengan penuh suka cita).

Rumus macam apa itu? Sederhana sekali:

W1 = What
W2 = Who
W3 = When
W4 = Where
W5 = Why
H = How

WHAT adalah apa yang akan kita tulis. Tema apa yang ingin kita ungkapkan. Hal apa yang ingin kita tuangkan dalam tulisan. What ini bisa apa saja. Bisa soal “Lumpur Lapindo yang tidak selesai-selesai”, “Situs porno diharamkan dan akan diblokir Pemerintah”, “Bagaimana bisa menjadi kaya, sukses sekaligus mulia?” atau topik yang sedang hot di dunia gosip: “Apakah anak kandung Mayangsari juga anak kandung Bambang Tri?”.

What yang kita tentukan ini akan menjadi dasar untuk 4W lainnya. Mari kita ambil topik mengenai Mayangsari saja. Mumpung masih hangat.

WHO adalah siapa tokoh yang menjadi tokoh utama di WHAT. Dalam studi kasus ini, who-nya minimal bisa tiga tokoh: Mayangsari, Bambang Trihatmodjo, dan sang anak yang baru berusia dua tahun: Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Yang pertama dan kedua sudah amat terkenal. Sosok mereka sudah tertulis di mana-mana.

Meski Who is Mayangsari sudah banyak yang tahu, masih banyak sisi lain yang menarik untuk dieksplorasi. Bahkan kebungkamannya mengenai tes DNA anaknya, menjadikan sosoknya makin layak tulis, sampai-sampai bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya secara diam-diam dan bagaimana ia menjenguk ibunya di rumah sakit dijadikan bahan pemberitaan. Suasananya hati Mayangsari digali dengan baik sehingga makin menegaskan sosoknya dalam menghadapi isu anak kandungnya.

Buat kita, yang tidak perlu jadi wartawan untuk bisa menulis sebaik mereka, Who harus menjadi bagian yang berkaitan dengan What. Kalau kita ketemu Who yang tidak dikenal target pembaca kita, maka kita harus mengupasnya dengan baik sehingga jelas keterkaitannya dengan What.

WHEN adalah waktu kejadian WHAT. Ini yang sering diabaikan oleh banyak penulis pemula. Kapan kejadiannya akan memberi tambahan informasi dan imajinasi pembacanya.

WHERE adalah tempat kejadian WHAT. Meski kelihatannya sepele, tempat kejadian ini punya makna. Ketika Jose Mourinho berkunjung ke Milan tiga hari lalu misalnya, segera merebak isu ia mau pindah ke Inter Milan. Coba kalau ia perginya ke Bali, kemungkinan besar tak akan ada isu itu.

WHY adalah mengapa terjadi WHAT. Ini yang paling menarik karena bisa dikupas dari berbagai sudut. “Permintaan tes DNA keluarga mantan presiden Soeharto terhadap anak Mayangsari” bisa dikupas dari sisi hukum, keluarga maupun pribadi. Bahkan kalau mau diseret jauh hingga ke dunia mistis, misalnya minta diteropong oleh ahli nujum.

HOW adalah bagaimana WHAT terjadi, bagaimana prosesnya, lika-likunya, dan sejenisnya.

Yang jelas, dengan 5W+1H, tulisan kita dari segi kelengkapan informasi – sekali lagi: kelengkapan informasi — tidak akan mengecewakan pembaca kita. Kalau ada yang kecewa itu biasanya karena disebabkan oleh kekurangtepatan kita mengungkap WHY dan HOW-nya di mata pembaca.

Jangan salah faham: rumus ini bukan hanya untuk nulis artikel, esai atau tulisan serius lain. Bahkan surat lamaran kerja, undangan meeting, surat cinta bahkan diskusi pendek-pendek di berbagai milis, rumus ini amat penting untuk menghindari kesalahpahaman dan kekuranglengkapan informasi.

Cukupkah berbekal rumus baku di atas? Tidak. Bagi mereka yang ingin menulis dan mendapat respon pembacanya, ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dari rumus 5W+1H. Yakni “Daya Tarik Tulisan”. Nanti akan dibahas dalam tulisan berikutnya.

Menulis adalah hal yang mudah jika kita memulainya sejak kecil. Biasakan menulis hal hal kecil setiap hari seperti menulis catatan harian setiap hari. Jika sejak kecil kita sudah terbiasa menulis, maka saat kita dewasa nanti menulis merupakan hal yang mudah dan sudah biasa layaknya berbicara dengan orang lain. Jadi mulailah menulis sejak kecil *kalo kamu udah besar ya mulai dari sekarang*.

Cara terbaik untuk mulai menulis menurut versiku adalah dengan membaca. Menurutku, menulis itu berawal dari membaca. Saat kita membaca, maka sebenarnya kita sedang belajar menulis. Sebagian besar ide yang kita tulis pasti berasal dari membaca. Kesimpulannya, agar menulis menjadi lebih mudah, kita harus lebih banyak membaca.

Selain membaca, kita juga harus mencari cara menyampaikan informasi atau style tulisan kita. Membuat style tulisan kita sendiri adalah hal yang sangat sulit, namun jika berhasil, ini adalah jurus yang ces-pleng J. Untuk membuat tulisan yang bagus tidak perlu membuat style kita sendiri *kalo bisa ya gak papa sih malah lebih bagus*. Kita cuma perlu menyatukan style tulisan-tulisan orang lain menjadi sebuah style baru *kan = bikin style baru*. So, Mulai sekarang, bikin style baru !!!

Cara memulai menulis yang paling gampang adalah menulis yang pendek-pendek. Praktek yang paling gampang adalah dengan menulis posting kron di layanan microblogging. Yang bikin gampang, layanan ini membatasi jumlah karakter dalam posting kita hanya 140 karakter. Dengan jumlah yang sedikit itu, kita tidak perlu terlalu banyak mencari ide, sehingga akan lebih mudah untuk belajar menulis. Tulis posting kron sebanyak banyaknya sampai kita merasa kurang tempat untuk menulis. Inilah saat yang tepat untuk berpindah ke blog yang sebenarnya.

Ini tips yang mungkin sebagian orang tidak suka tapi bisa membuat banyak orang tertarik untuk terus membaca. Yaitu menggunakan emoticon. Jika kamu menulis menggunakan text 100%, tulisanmu akan terasa hambar, kecuali style mu memang bagus. Emoticon akan menggambarkan emosimu saat menulis, memberi warna pada tulisanmu, dan menambah “rasa” pada tulisanmu.

Sekarang, mari kita gabungkan keempat tips diatas.

  1. Pertama baca referensi untuk hal yang akan kamu tulis. Semakin banyak referensi, semakin berkualitas pula tulisanmu.

  2. Lalu, cari beberapa style tulisan yang kamu anggap bagus lalu gabungkan. Buat style mu seunik mungkin namun tetap mudah dipahami *ini contohnya*

  3. Mulai menulis posting-posting kron yang disertai emoticon atau smiley yang sesuai. Semakin lama, tulisanmu akan semakin panjang. Ketika mencapai panjang maksimum, berpindahlah ke layanan blogging yang sebenarnya *bukan kron lagi

Mendengarkan

PERANAN GURU DALAM PEMBELAJARAN

BAHASA INDONESIA

Pendahuluan.

Guru merupakan factor penting dalam pendidikan formal, karena itu harus

memiliki perilaku dan kemampuan untuk mengembangkan siswanya secara optimal.

Guru juga dituntut mampu menyajikan pembelajaran yang bukan semata-mata

menstranfer pengetahuan, ketrampilan, dan sikap, tetapi juga memiliki kemampuan

meningkatkan kemandirian siswa. Oleh karena itu guru dituntut sanggup menciptakan

kondisi proses pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berpikir

dan berpendapat sesuai perkembangan yang dimiliki, untuk itu guru dituntut

meningkatkan kompetensi dirinya.

Dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, peranan guru amatlah

diharapkan, sehingga kegiatan belajar mengajar siswa dapat tercapai. Jadi guru

diharapkan dapat melaksanakan tugasnya secara baik sesuai profesinya. Guru sebagai

sebuah profesi untuk itu penguasaan berbagai hal sebagai kompetensi dalam

melaksanakan tugas harus ditingkatkan. Peningkatan kompentensi itu yaitu dalam proses

belajar mengajar antara lain memilih dan memanfaatkan metode belajar mengajar yang

tepat.

Guru yang dapat memilih dan memanfaatkan metode mengajar dengan baik

merupakan salah satu cirri guru yang efektif sehingga mampu mengembangkan siswa

secara professional. Pengembangan siswa dengan mengutamakan siswa yang aktif

dengan cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa tentu sangat

diharapkan suasana itu dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan

(PAKEM) berarti peranan guru sangatlah besar. Metode yang berfariasi dapatlah kiranya

untuk menunjang kegiatan ini.

Tidak heran setiap akhir tahun pembelajaran selalu terdengar berita tentang

masyarakat yang selalu mempermasalahkan rendahnya mutu pendidikan pada semua

jenis dan jenjang pendidikan, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. Tuntutan

standar kelulusan yang harus dicapai siswa menjadi masalah bagi guru maupun

lingkungan pendidikan, bahkan sangat mengkhawatirkan bila pada tahun ini peristiwa

pengumuman kelulusan seperti tahun lalu. Siswa yang tidak lulus berjumlah tidak sedikit.

Pada umumnya masyarakat kurang menyadari bahwa siswa SD merupakan

siswa yang baru memulai perubahan dari masa kanak-kanak menuju usia remaja. Orang

tua menyerahkan pendidikan anaknya sepenuhnya pada sekolah. Mereka hendaknya

mendapat pendidikan tidak hanya dari sekolah (guru) saja, tetapi juga masing-masing

orang tua berperan besar untuk membentuk potensi diri anak. Hal ini tidak dapat hanya

menyalahkan guru, tetapi merupakan kerja sama antara pendidik (guru) dan orang tua.

Namun sebagai guru untuk melayani pendidikan sesuai usia remaja, maka

diperlukan pelayanan guru dengan merancang suatu program pembelajaran yang dapat

meningkatkan kompetensi siswanya, misalnya dengan merancang program pembelajaran

yang menyenangkan karena belajar yang menyenangkan tidak ada lagi batasan dalam diri

siswa. Kecerdasan siswa dapat berkembang sehingga kompetensi yang telah dimiliki

dapat meningkatkan nilai-nilai prestasi yang diharapkan. Selain itu juga dapat

meningkatkan kehormatan diri dan motivasi mereka.

Menciptakan suatu program pembelajaran yang menyenangkan adalah salah satu

cara dengan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator, motivator, konselor, dan

evaluator. Diharapkan peranan itu dapat dimanfaatkan oleh guru agar dapat mewujudkan

“Sumber Daya Manusia Unggul dan Bermartabat”. Agar sumber daya manusia itu dapat

diwujudkan maka seorang guru diharapkan dapat sebagai fasilitator, konselor, motivator,

dan evaluator, maka perubahan paradigma dalam pembelajar baru harus diciptakan.

Pembelajaran Paradigma Baru.

Belajar itu adalah proses, maka yang paling berharga dalam belajar adalah

“Bagaimana Cara Belajar”. Dalam pembelajaran paradigma baru kegiatan belajar pada

minggu pertama, kegiatan menekankan pada upaya menciptakan susasana belajar aman

dan penuh kepercayaan di antara siswa. Dengan cara demikian memungkinkan siswa

belajar lebih efektif dan menyerap serta mengingat materi pelajaran. “Belajar untuk

menambah informasi maka saya tahu, menyimpan informasi maka saya hafal,

memperoleh informasi saya bisa menjawab semua pertanyaan, memahami informasi saya

mengerti, dan memahami kenyataan yang ada dan saya dapat melihat kejadian itu dari

sisi lain”. (Bahan Diklat Guru Bahasa Indonesia, 2005). Proses belajar tersebut,

merupakan proses belajar dalam arti yang dangkal menuju proses belajar dalam arti yang

dalam.

Belajar dalam arti yang dalam adalah salah satu proses usaha individu untuk aktif

mengkonstruksi/membangun pengetahuan serta senantiasa mengkonstruksinya kembali

dengan sejumlah pengetahuan baru. Upaya menciptakan suasana belajar yang aman dan

penuh kepercayaan, agar pemelajaran belajar dalam proses aktif sehingga pemelajaran

mampu dikembangkan untuk menjadi individu yang mandiri dalam belajar. Untuk

mewujudkan suasana itu, maka diperlukan lingkungan sehingga semua siswa merasa

penting, aman dan nyaman dengan demikian ketrampilan akademis dan ketrampilan

dalam hidup dapat dicapai.

Pergeseran Paradigma / Perubahan Sikap.

Perubahan paradigma / perubahan sikap guru yang harus dipersiapkan adalah

konsep belajar, peran guru dan teknik mengajar, teknik belajar serta sikap mengajar. Oleh

karena pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajar pokok, maka

konsep belajar pun diciptakan sesuai fungsinya yaitu bahasa sebagai alat komunikasi,

maka diharapkan ketrampilan berbahasa tetap pada tatanan empat aspek ketrampilan

berbahasa. Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, pada pembelajaran bahasa

Indonesia kegiatan berbahasa mencakup empat aspek ketrampilan yaitu : mendengarkan,

berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek itu haruslah diajarkan secara terpadu,

bersinergi satu sama lainnya, seimbang dan saling mendukung. Selain keempat aspek

penguasaan ketrampilan berbahasa itu, juga harus dapat meningkatkan kemampuan siswa

dalam bernalar, berpikir, memperluas wawasan serta mampu mendukung kegiatan

bersastra. Kegiatan ketrampilan berbahasa diharapkan dapat menunjang ketrampilan

akademis lainnya.

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, belajar adalah mempelajari berbagai hal

secara terus menerus dalam pengalaman hidupnya. Siswa adalah peserta yang aktif.

Sehingga siswa belajar adalah siswa mempelajari berbagai hal secara terus menerus

sedangkan sekolah merupakan tempat untuk belajar. Kegiatan belajar adalah kegiatan

sepanjang hayat, kegiatan yang tidak berhenti pada siswa tamat atau selesai sekolah,

maka peran guru dan teknik mengajar perlu diperhatikan.

Di dalam proses belajar, menurut Bruner (2001) dapat dibedakan menjadi tiga

fase/episode, yaitu (1) Informasi, (2) Tranformasi, (3) Evaluasi. Dalam tiap pelajaran

diperoleh sejumlah informasi, baik yang menambah pengetahuan, memperluas, dan

memperdalamnya maupun informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita

ketahui sebelumnya.

Setelah informasi diperoleh, maka harus dianalisis, diubah dan ditranspormasi ke

dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual, agar dapat digunakan untuk hal-hal

yang lebih luas. Dalam hal ini peran guru sangat diperlukan. Untuk itu guru perlu

memiliki kemampuan yang professional. Perlunya kemampuan guru dalam proses belajar

mengajar karena uru merupakan pendidik dan pengajar yang menyentuh kehidupan

pribadi siswa. Teknik mengajar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dapat

dirancang dengan memperhatikan materi, cara belajar siswa disesuaikan dengan usia

siswa SD.

Peran Guru Dan Teknik Mengajar.

Peran guru sebagai fasilitator, peranannya adalah sebagai penyedia yang bersifat

sebagai pendukung kebutuhan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan konsep

belajar di atas bahwa belajar adalah suatu proses, maka dalam proses ketrampilan

mendengarkan dipersiapkan terlebih dahulu adalah siswanya, selain itu materi yang

sangat penting untuk menjadi suatu proses belajar berlangsung, guru dapat menyiapkan

teks / wacana yang dibacakan atau menyediakan rekaman teks dalam kaset maka Tape

Recorder dipersiapkan.

Teknik dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara bervariasi, misalnya

sebelum pelaksanaan pembelajaran, guru terlebih dahulu memutar lagu atau bernyanyi

bersama. Hal ini dilakukan agar siswa menyiapkan diri dalam pembelajaran sehingga

tidak stres.

Mendengarkan (menyimak) merupakan ketrampilan berbahasa yang sangat

penting dalam kehidupan manusia. Hal ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia

untuk mendapatkan suatu informasi. Pada masa sekarang bahwa mendengarkan

(menyimak) lebih banyak dilakukan manusia sebagai bentuk penyerapan informasi dari

pada ketrampilan berbahasa lainnya. Hal ini disadari karena banyaknya informasi melalui

media elektronik maka membutuhkan kecepatan dan kecermatan menyimak.

Dalam ketrampilan berbicara, guru dapat merancang pembelajaran sesuai

kompetensi yang harus dikuasai. Berbicara merupakan ketrampilan berbahasa lisan maka

materi pelajaran diarahkan pada pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa, memberikan

pengetahuan dan ketrampilan yang perlukan oleh siswa untuk mengembangkan potensi

dirinya baik secara individu maupun kelompok sesuai kebutuhan siswa. Teknik

pelaksanaannya dapat dilakukan dengan belajar mengucapkan kata-kata dengan vocal dan

intonasi yang benar kemudian kegiatan intinya sesuai indikator yang harus dicapai.

Materi disesuaikan dengan tuntutan kecakapan hidup sesuai kurikulum.

Ketrampilan membaca dan menulis merupakan ketrampilan yang sangat erat

hubungannya karena setiap kegiatan membaca dihubungkan dengan kegiatan menulis.

Peran guru harus dapat memfasilitasi sesuai dengan kebutuhan. Menciptakan lingkungan

belajar yang kondusip sangat diharapkan. Khusus dalam hal ketrampilan menulis,

pembelajaran diarahkan agar mampu menuangkan segala pikiran, pengalaman, pesan

perasaan, gagasan, pendapat imajinasi dalam bentuk bahasa tulisan secara benar.

Kebenaran itu dapat dilihat dari segi kebahasaan, isi dan makna. Tulisan dapat

didokumentasikan dan dapat dilihat dan dibaca ulang. Oleh karena itu pembelajaran

menulis bagi siswa harus dianggap penting.

Pentingnya pembelajaran menulis, maka guru harus sering melatih siswa dengan

berbagai cara. Untuk mengaktifkan kegiatan menulis, berarti mengaktifkan otak kiri dan

otak kanan dalam pembelajaran. Hal ini tidaklah mudah, persiapan kegiatan harus

dirancang sebaik mungkin. Menurut Sudjana dan Suwariyah (1999) ada beberapa kondisi

dan persyaratan yang harus diciptakan guru dalam pembelajaran menulis, antara lain :

aspek psikologi anak, lingkungan dan suasana belajar, bantuan atau bimbingan dari guru

sangat diperlukan.

A. Aspek Psikologi Aanak.

Yang dimaksud aspek psikologi anak adalah kondisi mental, sosial dan emosional

siswa pada saat ia mengikuti proses pembelajaran (Sudjana dan Suwariyah, 1991).

Aspek ini harus dikembangkan dengan baik agar siswa beraktifitas dengan kreatif,

dan mengembangkan daya nalar dengan baik. Aspek social dan emosional juga

penting, karena hubungan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru

atau siswa dengan lingkungan belajar lainnya. Kesetiakawanan dan kebersamaan

harus ditumbuhkan sehingga menjadi manusia yang kokoh dan harmonis.

B. Lingkungan dan Suasana Belajar.

Yang dimaksud dengan suasana dan lingkungan belajar adalah keadaan atau

suasana pada saat pembelajaran berlangsung (Sudjana dan Suwariyah, 1991). Akan

berlangsung baik bila lingkungan dan suasana belajar nyaman, tidak membosankan

dan diharapkan siswa berkeinginan untuk kembali belajar. Dalam hal ini guru dapat

mempersiapkan kelas atau ruangan lain yang dapat menunjang pembelajaran,

misalnya : halaman (taman sekolah, perpustakaan).

C. Bimbingan dan Bantuan Belajar Dari Guru.

Peran guru sebagai pembimbing adalah menjadi tempat bertanya bagi siswa yang

mengalami kesulitan dalam belajar, memberi bantuan dengan menunjukkan jalan

untuk memecahkan masalah, memperbaiki kesalahan yang dilakukan siswa, memberi

dorongan dan motivasi belajar. Dalam kegiatan tersebut, berarti guru harus berada

dalam lingkungan proses pembelajaran.

Peran Guru Sebagai Motivator.

Dari keempat aspek ketrampilan berbahasa di atas yang telah diuraikan, maka

peran untuk memotivasi siswa tetaplah diharapkan, misalnya mendorong siswa agar tetap

berkonsentrasi pada kegiatan belajar. Selain itu juga mengajak siswa untuk melakukan

refleksi diri, misalnya menyisihkan waktu untuk memikirkan siapa sebenarnya diri siswa,

apa yang menyebabkan rasa puas, dll.

Peran Guru Sebagai Konselor.

Peran ini seperti yang telah diuraikan pada aspek bimbingan dan bantuan belajar

guru. Hal ibi, guru dapat memberi bantuan pada setiap pembelajaran sewaktu-waktu

siswa membutuhkan maka bantuan nasehat untuk siswa dapat diberikan. Jadi, selain guru

memegang mata pelajaran sebagai guru, juga bertugas melayani konseling.

Peran Guru Sebagai Evaluator.

Peran sebagai evaluator, bahwa setiap pembelajaran melakukan evaluasi sesuai

indikator yang harus dicapai. Dalam mengevaluasi guru hendaknya kreatif dengan

berbagai cara mengevaluasi dan memberikan penguatan agar keberhasilan belajar siswa

dapat dirasakan. Dalam memberikan penilaian, guru dapat berkreatifitas membuat nilai

dengan memberikan tanda bintang yang dibuat atau ditempal pada sebuah karton yang

berbentuk buah atau bunga, lalu ditutup. Pada sisi luar digambar raut wajah sesuai isi

bintang, misalnya bintang satu wajah sedih, bintang dua wajah tersenyum, bintang tiga

senyum agak lebar, dan bintang empat senyum lebar, sedangkan gambar bintang lima

tertawa sambil mengangkat tangan.

Cara menyampaikan penilaiannya yaitu setelah para siswa mempresentasikan

hasil kerja kelompoknya dan telah ditanggapi oleh kelompok lain. Selanjutnya guru akan

menguji keberhasilan anggota kelompok dengan pertanyaan sehubungan dengan materi.

Apabila siswa dapat menjawab benar, maka siswa tersebut berhak membuka nilai yang

telah ditempel atau digantung pada papan tulis.

Teknik Belajar.

Dalam teknik belajar terbagi menjadi enam tipe utama, yaitu (1) Visual Internal,

(2) Visual Eksternal, (3) Auditory Internal, (4) Auditory Eksternal, (5) Kinestetik

Internal, (6) Kinestetik Eksternal. (Ramly, 2004).

1. Teknik belajar Visual Internal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan

penglihatan dan mengeksplorasikan imajinasinya. Cara yang praktis adalah

dengan menghidupkan imjinasi tentang hal yang akan dipelajari (Ramly, 2004).

2. Teknik belajar Visual Eksternal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan

penglihatan dengan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis

adalah membaca buku dengan tampilan yang menarik, menggunakan grafik dan

gambar, pemanfaatan computer, poster, pembubuhan warna-warna yang menarik

(Ramly, 2004).

3. Teknik belajar Auditory Internal adalah cara belajar dengan menyukai

lingkungan yang tenang. Dalam proses belajar, mengoptimalkan pendengaran dan

mengekspolrasikan dunia dalam dirinya. Cara praktis dalam proses belajar ini

adalah meluangkan waktu yang tenang untuk memulai belajar dan merenungkan

apa yang sudah diketahui (Ramly, 2004).

4. Teknik belajar Auditory Eksternal adalah cara belajar dengan mengoptimalkan

pendengarannya dengan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis

dalam proses pembelajarannya adalah membaca dengan suara keras,

menggunakan sesi Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok (Ramly, 2004).

5. Teknik Kinestetik Internal adalah cara belajar dengan menyentuh rasa. Agar

belajar efektif proses belajar dengan pemahaman terlebih dahulu, temukan faedah

dari aktivitas siswa, gunakan alat Bantu atau dalam bentuk demo. Proses belajar

seperti ini cenderung bergantung pada lingkungan (Ramly, 2004).

6. Teknik Kinestetik Eksternal adalah proses belajar dengan mengoptimalkan emosi

yaitu dengan beradabtasi terlebih dahulu dengan dunia luar dirinya. Proses belajar

yang efektif yaitu dengan kemampuan panca indra, misalnya dengan

menggunakan model, memainkan peran dengan membuat peta pikiran.

Berdasarkan teknik atau cara belajar yang bermacam-macam, maka guru

dituntut merancang program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan

perkembangan talenta siswa. Guru diharapkan dapat mengembangkan

kemampuannya untuk bersikap mengajar dengan baik. Sikap mengajar tersebut

antara lain bersikap demokratis, kreatif, dan inovatif.

Guru bersikap demokratis adalah sikap guru yang memberikan persamaan

hak dan kewajiban yang sama bagi siswa. Guru yang kreatif adalah guru yang

mampu mengembangkan kreatifitas dalam program pembelajaran misalnya

menciptakan program pembelajaran baru dengan media yang mutakhir sesuai

dengan perkembangan jaman, sedangkan guru yang bersifat inovatif adalah guru

yang mampu melakukan pembaharuan dengan kreasi baru, mencoba memecahkan

masalah pendidikan dengan cara-cara baru.

Apabila sikap guru dapat terwujud, maka akan berimbas pada keberhasilan

siswa dalam belajar, siswa aktif, mandiri, kritis dan kompetitif.

Berbicara

KETERAMPILAN BERBICARA

RHETORIKA DAN BERBICARA EFEKTIF

Dengan mulut kita dapat berbicara. Berbicara adalah merupakan suatu aktivitas kehidupan manusia normal yang sangat penting, karena dengan berbicara kita dapat berkomunikasi antara sesama manusia, menyatakan pendapat, menyampaikan maksud dan pesan, mengungkapkan perasaan dalam segala kondisi emosional dan lain sebagainya.

Kalau diamati dalam kehidupan sehari-hari, banyak didapati orang yang berbicara. Namun tidak semua orang didalam berbicara itu memiliki kemampuan yang baik didalam menyampaikan isi pesannya kepada orang lain sehingga dapat dimengerti sesuai dengan keinginannya, dengan kata lain, tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik didalam menyelaraskan atau menyesuaikan dengan detail yang tepat antara apa yang ada dalam pikiran atau perasaannya dengan apa yang diucapkannya sehingga orang lain yang mendengarkannya dapat memiliki pengertian dan pemahaman yang pas dengan keinginan si pembicara.

Untuk penyampaian hal-hal yang sederhana mungkin bukanlah suatu masalah, akan tetapi untuk menyampaikan suatu ide/gagasan, pendapat, penjelasan terhadap suatu permasalahan, atau menjabarkan suatu tema sentral, biasanya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi seorang pembicara yang belum terbiasa, bahkan tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik. Dibutuhkan suatu keterampilan atau kecakapan dengan proses latihan yang secukupnya untuk dapat tampil dengan baik menjadi seorang pembicara yang handal.

Keterampilan berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orang yang didalam kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki ketermapilan berbicara yang baik, akan memiliki kemudahan didalam pergaulan, baik di rumah, di kantor, maupun di tempat lain. Dengan keterampilannya segala pesan yang disampaikannya akan mudah dicerna, sehingga komunikasi dapat berjalan lancar dengan siapa saja.

Disadari bahwa keterampilan berbicara seseorang, sangat dipengaruhi oleh dua faktor penunjang utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun non fisik (psykhis), faktor pisik adalah menyangkut dengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicara misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor non fisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter, temparamen, bakat (talenta), cara berfikir dan tingkat intelegensia. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan. Namun demikian, kemampuan atau keterampilan berbicara tidaklah secara otomatis dapat diperoleh atau dimiliki oleh seseorang, walaupun ia sudah memiliki faktor penunjang utama baik internal maupun eksternal yang baik. Kemampuan atau keterampilan berbicara yang baik dapat dimiliki dengan jalan megasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada.

Pada dasarnya seorang pembicara yang handal adalah seseorang yang ketika ia berbicara, baik dalam komuniasi formal (presentasi, ceramah, dll.) maupun informal (pergaulan) memiliki daya tarik yang rhetoris (mempesona) dengan isi pembicaraan yang efektif (sistematis, benar/tepat, singkat dan jelas dengan bahasa yang tepat) sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dengan jelas dan tergugah perasaannya.

Singkatnya, semua orang apapun profesinya, bila didalam kegiatannya menggunakan komunikasi (pembicaraan) sebagai sarananya, maka ia perlu memiliki keterampilan berbicara, terlebih lagi sebagai seorang tenaga pendidik, penyiar, atupun profesi lainnya.

RHETORIKA

Salah satu dari sekian banyak jenis keterampilan yang penting untuk dimiliki oleh setiap orang adalah keterampilan berbicara atau seni berbicara. Hal ini menjadi penting bahkan sangat urgen, karena tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini sebagai manusia normal kita tidak mungkin lari dari kenyataan bahwa kita dalam berinteraksi dengan sesama manusia harus menggunakan suatu bentuk atau cara yang disebut komunikasi, khususnya bahasa verbal atau lisan.

Nuansa ini memberikan aksentuasi kepada kemampuan manusia di dalam menggunakan lambang-lambang kata, simbol-simbol maupun isyarat lainnya dalam proses komunikasinya sehingga tujuan komunikasi tercapai. Di dalam kenyataannya bahwa proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia, baik secara pribadi maupun secara kelompok tidak jarang ditemukan adanya kegagalan di dalam mencapai tujuan komunikasi. Hal ini disebabakan oleh adanya kekurangmampuan komunikator dalam mengaplikasikan secara lebih baik lambang-lambang kata, simbol-simbol maupun isyarat lainnya dalam proses komunikasi, atau mungkin juga disebabkan oleh faktor lainnya yang tidak/kurang menguntungkan bagi kondisi di saat berlangsungnya proses komunikasi tersebut.

Dari fenomena tersebut di atas maka seorang komunikator dalam profesi apapun yang menggunakan bahasa lisan sebagai media penyampaiannya, dipandang perlu membekali diri dengan suatu keterampilan atau seni di dalam berbicara atau dalam istilahnya “Rhetorika”.

  1. Pengertian/Defenisi Rhetorika

Rhetorika dapat diartikan secara “etimologi” dan “terminologi”. Adapun hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Secara etimologi (berdasarkan asal kata), rhetorika berasal dari :

    • Bahasa Latin (Yunani kuno) “Rhetorica” yang artinya seni berbicara.

    • Bahasa Inggris “Rhetoric” yang berarti kepandaian berpidato atau berbicara.

  2. Secara terminologi (pengertian secara istilah) adalah :

Didalam bahasa Inggris rhetorika dikenal dengan istilah “The art of speaking” yang artinya seni di dalam berbicara atau bercakap. Sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa rhetorika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau mempersoalkan tentang bagaimana caranya berbicara yang mempunyai daya tarik yang mempesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah perasaannya.

Sebagai bahan komparasi (pembanding) maka berikut ini ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar di bidang rhetorika yang diantaranya adalah :

  1. Richard E. Young cs, mengatakan bahwa rhetorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita menggarap masalah wicara-tutur kata secara heiristik, epistomologi untuk membina saling pengertiandan kerjasama.

  2. Socrates mengemukakan bahwa rhetorika mempersoalkan tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya. Karena dengan dialog kebenaran dapat timbul dengan sendirinya.

  3. Plato mengungkapkan bawha rhetorika adalah kemampuan didalam mengaplikasikan bahasa lisan yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan sempurna.

  4. Drs. Ton Kertapati mengartikan rhetorika sebagai kemampuan seseorang untuk menyatakan pikiran dan perasaannya dengan menggunakan lambang-lambang bahasa.

Dari beberapa defenisi tersebut di atas, apapun defenisi dan siapapun yang mengemukakannya semua mengacu dan memberi penekanan kepada kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan gaya (seni) didalam penyampaiannya dengan tujuan untuk memikat/menggugah hati pendengarnya dan mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya.

Kemampuan untuk menjadi pembicara yang handal tidaklah diperoleh secara otomatis atau hanya mengandalkan bakat yang besar dan pembawaan (kharismatik) semata, tetapi juga dapat dipelajari dan atau melalui latihan yang banyak (Dr. Dale Carnigie).

  1. Latar Belakang Sejarah

Istilah rethorika muncul bermula di Yunani sekitar abad ke-5 sebelum masehi. Pada saat itu adalah merupakan masa kejayaan Yunani sebagai pusat kebudayaan barat dan para filsufnya saling berlomba untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Pengaruh kebudayaan Yunani ini menyebar sampai ke dunia timur seperti Mesir, India, Persia, bahkan Indonesia dan lain-lain.

Rhetorika mulai berkembang pada jaman Socrates, Plato, dan Aristoteles. Selanjutnya rhetorika kemudian berkembang menjadi suatu ilmu pengetahuan, dan yang dianggap sebagai guru pertama dalam ilmu rhetorika adalah Georgias (480 – 370 SM).

  1. Jenis-Jenis Rhetorika

Dari segi kepentingannya atau tujuan yang ingin dicapai, rhetorika dapat dibagi dalam dua bahagian, yaitu :

  1. Rhetorika Persuasif

Rhetorika persuasif adalah rhetorika yang bertujuan mempengaruhi orang dengan tidak begitu memperhatikan/mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran dan moralitas. Rhetorika yang seperti ini dapat kita jumpai dimana-mana, contohnya adalah rhetorika yang digunakan oleh sebagian besar penjual obat kaki lima dalam menawarkan dagangannya, dll.

  1. Rhetorika Dialektika

Rhetorika dialektika yang sering juga disebut dengan rhetorika psikologi, adalah rhetorika yang muncul sebagai kebalikan dari rhetorika persuasif, dimana rhetorika ini sangat memperhatikan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, moralitas dan sifatnya dapat menenangkan jiwa manusia. Tujuan utama rhetorika ini mengarah kepada pembinaan spiritual. Rhetorika yang seperti ini umumnya digunakan didalam ceramah-ceramah agama.

  1. Tujuan Rhetorika

Tujuan rhetorika adalah berusaha untuk membentuk opini publik atau menggiring pendapat umum ke arah pendapat pembicara, atau minimal pendengar (audience) tidak membantah terhadap apa yang dikemukakan oleh si pembicara (komunikator).

  1. Langgam-Langgam Dalam Rhetorika

Dalam rhetorika langgam diartikan sebagai cara, ragam, atau gaya suatu bahasa (pembicaraan). Langgam-langgam rhetorika dapat dibagi atas :

  1. Langgam Agitasi

Langgam agitasi adalah langgam yang kebanyakan dipakai dalam rhetorika persuasif. Langgam ini biasanya digunakan untuk membakar semangat, misalnya oleh demonstran.

  1. Langgam Teater

Langgam teater adalah langgam yang digunakan oleh para pemain teater dalam berdialog.

  1. Langgam Agama

Langgam agama adalah langam yang biasa digunakan oleh para muballigh atau para pendeta dalam penyampaian ceramahnya.

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Rhetorika

Keberhasilan suatu rhetorika didalam berbicara sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Situasi

Situasi yang dimaksudkan adalah hal-hal yang menyangkut keadaan atau kondisi saat pembicaraan/ceramah sedang berlangsung. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

    1. Tingkat pengetahuan pendengar. Yaitu menyangkut latar belakang level pengetahuan dari pendengar (audience).

    2. Formal atau informal. Hal ini menyangkut apakah kita berbicara dalam suatu situasi yang formal (forum resmi) atau dalam situasi biasa atau kekeluargaan (informal)

    3. Sedih atau gembira. Berbicara di depan orang yang berada dalam situasi sedih tentunya sangat berbeda dibandingkan dengan ketika kita tampil berbicara di depan orang yang sedang dalam keadaan gembira. Untuk itu seorang pembicara harus mengetahui betul situasi dan kondisi pendengarnya.

  1. Ruang

Hal ini adalah tentang tempat dimana kita sedang berbicara, misalnya di dalam ruangan gedung ataukah di lapangan.

  1. Waktu

Yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah, disamping waktu yang sebenarnya yaitu apakah pagi, siang, sore atau malam, juga tentang isi materi yang akan dibicarakan, apakah hal tersebut masih aktual ataukah sudah usang atau basi.

  1. Tema

Sebuah tema sangat penting artinya dalam suatu pembicaraan, sehingga didalam pembicaraan seorang pembicara ia dapat fokus atau terarah. Sangat disarankan seorang pembicara hanya menggunakan satu tema pembicaraan sehing didalam pembicaraannya ia tidak ngawur atau mengambang yang dapat mengakibatkan isi pembicaraan susah dipahami oleh pendengar. Namun jika terpaksa harus lebih dari satu, maka selesaikanlah satu tema pembicaraan kemudian pindah ke tema yang lainnya.

  1. Isi atau Materi

Isi pembicaraan hendaknya sesuai dengan tema yang telah dipersiapkan dengan mantap sebelumnya dan menarik minat pendengar. Daya tarik suatu materi juga akan sangat menentukan keberhasilan suatu pembicaraan. Adapun yang dapat menjadi pemicu rasa ketertarikan pendengar diantaranya adalah :

      • Up to date, masalah yang dibicarakan adalah masalah yang sedang hangat-hangatnya di dalam masyarakat.

      • Merupakan suatu yang menyangkut kepentingan pendengar.

      • Masalah yang mengandung pertentangan publik, benar-salah, baik-buruk.

      • Sesuai dengan kemampuan logika pendengar, dll.

  1. Teknik Penyajian

Teknik yang dimaksudkan disini adalah cara-cara yang digunakan didalam berbicara, meliputi :

    1. Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik. Dalam hal ini seorang pembicara hendaknya memiliki kemampuan tata bahasa yang baik, artikulasi yang jelas dan tidak cadel, intonasi yang menarik (tidak monoton), aksen yang tepat, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak perlu.

    2. Ekspresi (air muka) yang menarik, misalnya: tidak cemberut, tidak pucat, tidak merah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat penting untuk memikat minat dengar atau rasa ingin tahu dari pendengar.

    3. Stressing (redance), yaitu kemampuan seorang pembicara untuk memberikan penekanan pada masalah-masalah inti atau penting didalam pembicaraannya, misalnya dengan pengulangan-pengulangan yang seperlunya, atau dengan penekanan-penekanan tertentu dalam nada pembicaraan.

    4. Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan intermezzo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pendengar tidak terlalu stress yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti pembicaraan kita.

    5. Kepribadian atau personality. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilai-nilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani, bijaksana, berpandangan baik, percaya diri, tegas, tahu diri, tenang dan tenggang rasa.

BERBICARA EFEKTIF

Tampil berbicara dengan hanya mengandalkan teknik rhetorika, nampaknya tidaklah cukup untuk menjadi seorang pembicara yang handal. Karena bagimanapun hebatnya daya pesona yang ditimbulkan oleh seorang pembicara dalam penampilannya tanpa didukung oleh efektifitas pembicaraan yang dibawakannya, maka apa yang disampaikannya itu akan berlalu begitu saja tanpa menimbulkan kesan yang mendalam, atau dengan kata lain efek pesan yang disampaikannya itu hanya bertahan sampai selesainya pembicaraan, begitu pembahasan selesai maka selesai pulalah segalanya.

Untuk itulah maka disamping seorang pembicara perlu memiliki rhetorika yang baik, ia juga perlu menguasai apa yang disebut berbicara yang efektif. Berbicara efektif merupakan sarana penyampaian ide kepada orang atau khalayak secara lisan dengan cara yang mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengarnya. Hal itu dapat terjadi jika pembicaraannya sistematis, benar, tepat dan tidak berbelit-belit dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar.

  1. Dasar-Dasar Berbicara Efektif

Pada dasarnya berbicara efektif pada kesempatan apapun terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu pembukaan, isi atau inti permasalahan, dan penutup.

          1. Pembukaan

Pembukaan adalah bagian awal dari setiap pembicaraan. Pembukaan termasuk bagian penting karena turut menentukan sukses tidaknya suatu pembicaraan. Bila pembukaan sudah berhasil menggugah minat dengar orang, maka kesuksesan pembicaraan sudah 50 % ada ditangan si pembicara. Sebaliknya, bila pembukaannya saja sudah membosankan, maka kegagalan penyampaian pesan dapat dikatakan sudah 90%, karena yakinlah bahwa pembicara akan diabaikan atau tidak akan diperhatikan oleh pendengar.

Pembukaan seyogyanya dilakukan paling lama lima menit. Dan diharapkan waktu lima menit tersebut dapat memberikan kesan yang menyenangkan dan menarik minat bagi para pendengar sehinga para pendengar bersedia menyimak pembicaraan selanjutnya dengan seksama.

Pada acara formal, misalnya pidato, isi “Pembukaan” biasanya terdiri dari salam kepada orang/pejabat atau tokoh setempat yang hadir, ucapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan ulasan sekilas tentang masalah yang akan dibicarakan.

Pembukaan sebaiknya memuat common interest dari pendengar. Misalnya berbicara tentang hal-hal aktual yang sedang terjadi yang menjadi bahan pembicaraan yang hangat di masyarakat, walaupun mungkin tidak ada kaitannya dengan yang akan dibicarakan. Bisa juga disisipkan beberapa lelucon/anekdot segar yang dapat menggugah perhatian dan simpati orang. Alangkah baiknya apabila lelucon atau “penyegar” tersebut secara tidak langsung dapat disambungkan dengan inti masalah.

Bila kata pembukaan berhasil, perhatian pendengar secara halus dapat ditarik ke inti permasalahan. Pembukaan pada setiap kesempatan pembicaraan sangat berbeda, tergantung pada misi, sifat, lawan bicara, dan suasana pembicaraan.

  1. Misi Pembicaraan

Pembukaan dipengaruhi oleh misi pembicaraan. Yang dimaksudkan dengan misi pembicaraan di sini adalah tujuan pertemuan atau pembicaraan dan tugas yang dibebankan kepada si pembicara untuk disampaikan kepada hadirin

  1. Sifat Pembicaraan

Pembukaan dipengaruhi oleh sifat pembicaraan, apakah serius, resmi, atau tidak sama sekali. Pembukaan di depan forum resmi, misalnya pertemuan atau rapat dinas yang dihadiri oleh pejabat kantor bersangkutan dan para pejabat pemerintah, sifatnya sangat formal yang biasanya akan mengikuti tatanan yang sudah baku dalam acara resmi. Dalam hal ini, pembukaan harus benar-benar mencerminkan keseriusan dari acaranya. “Pembukaan” pembicaraan atau pidato dapat disisipi “penyegaran” dengan sedikit humor, dan bisa dilakukan dengan santai tapi dengan tidak menghilangkan keseriusan acara.

  1. Lawan Bicara

Lawan bicara turut menentukan “pembukaan” pembicaraan. Lawan bicara atau pendengar bisa dikategorikan dalam dua bahagian, yaitu kelompok atau perseorangan. Pembicaraan dengan perseorangan (seseorang), pembukaannya biasanya lebih diwarnai dengan gaya yang sifatnya kekeluargaan, apalagi kalau keduanya sudah akrab. Namun apabila pembicara dengan lawan bicara belum akrab benar maka pembukaan disampaikan seperlunya hingga dirasa suasana sudah “hangat”, kemudian kita dapat masuk ke masalah inti yang akan disampaikan.

Berbeda jika pembicaraan dilakukan dihadapan banyak orang maka harus diperhatikan siapa siapa yang menjadi lawan bicara, pembukaannya harus ditujukan kepada semua hadirin.

Disamping itu, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: usia, status sosial, bahasa dari lawan bicara, karena ini berkaitan dengan adat kesopanan yang juga akan sangat menentukan minat dengar dari lawan bicara.

  1. Suasana

Suasana juga ikut menentukan bagaimana pembukaan suatu pembicaraan. Baik isi maupun pola tutur bahasa bahkan nada bicara yang digunakan adalah sangat erat hubungannya dengan suasana yang berlangsung atau yang dihadapi oleh pembicara. Karenanya pembicara harus memahami betul suasana yang dihadapinya untuk memulai atau membuka suatu pembicaraan, apakah gembira, sedih, santai atau suasana yang lainnya. Pembukaan pembicaraan atau sambutan dan sejenisnya, pada suatu acara pemakaman jangan sampai disamakan seperti pada pembukaan acara ulang tahun, atau sebaliknya.

          1. Isi/Inti Pembicaraan

Inti pembicaraan merupakan bagian paling pokok dalam pembicaraan. Bagian ini merupakan tujuan dari pembicaraan. Dalam bagian inilah rincian permasalahan akan dibahas.

Dalam acara-acara tertentu, misalnya diskusi, seminar, sarasehan, biasanya penyampaian inti permasalahan tidaklah perlu terlalu mendetail, melainkan hanya pada butir-butir pokoknya sajalah yang disampaikan. Penyampaian yang mendetail biasanya disampaikan dalam forum tanya jawab.

Isi pembicaraan harus dapat disampaikan secara lengkap dengan sistematis dan tidak berkepanjangan atau bertele-tele. Pembicara harus konsisten dengan inti permasalahan. Pembicaraan tidak boleh merambat ke hal-hal di luar permasalahan yang dibicarakan, terkecuali jika hal itu diambil sekedar sebagai referensi atau sebagai loncatan berfikir (itupun harus dibatasi dan dijaga jangan sampai berkembang lebih jauh). Untuk lebih memfokuskan perhatian pendengar dapat dibantu dengan presentasi yang menggunakan alat audio, visual atau audio visual.

Sesekali sisipkan anekdot atau guyonan penyegar suasana. Dan selanjutnya libatkan hadirin dalam permasalahan yang disampaikan, misalnya dengan melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan inti permasalahan. Cara seperti ini hampir selalu dapat mengikat perhatian pendengar sepanjang pembicaraan.

Perlu diperhatikan bahwa, sebaiknya lama pembicaraan tidak lebih dari satu jam per sesi. Pembahasan inti permasalahan dapat dilanjutkan lagi dalam forum tanya jawab. Setelah semua inti materi disampaikan, tiba saatnya untuk menutup pembicaraan.

          1. Penutup

Pada akhir pembicaraan hendaknya diusahakan adanya kata-kata penutup yang dibuat sesingkat mungkin, paling lama tiga sampai lima menit. Dalam penutup dapat disampaikan kesimpulan atau rangkuman penting sebagai hasil pembicaraan itu.

Penutup biasanya diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada hadirin atas perhatian yang diberikan dan kepada penyelenggara apabila berbicara pada suatu acara resmi. Dan terakhir sekali adalah ucapkan salam sebagai penutup pembicaraan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. HUDORO SUMETO : Cara Berbicara dan Presentasi dengan Audio Visual, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004.

  1. ARMAN AGUNG : Laporan Program Pembelajaran Pendidikan Kader (Materi Rethorika) di Kampus IKIP Gunungsari Baru Ujung Pandang, Ujung Pandang1989.

Desember 9, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: