Internet, Bengkel dan Dunia Pendidikan di Indonesia
Pendidikan adalah modal utama bagi setiap bangsa untuk dapat mengembangkan sayapnya di kancah Internasional. Tanpa pendidikan, suatu bangsa tidaklah mungkin bisa secepat kilat diterima oleh dunia. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus memiliki kesatuan standar dalam pelaksanaan prosesnya, baik perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam hal evaluasi, maka dibentuklah BNSP. Sehingga seluruh proses dalam mendidik bangsa tidak pincang di salah satu penopangnya.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh setiap guru di Indonesia supaya memiliki kualitas pengajaran yang sedikit lebih berkelas dari pada pengajaran-pengajaran sebelumnya?
Pendidikan di Indonesia, seperti yang kita tahu, sangatlah jauh dari harapan yang diharapkan masyarakat. Terutama di daerah-daerah, banyak sekolah-sekolah belum memiliki sarana prasarana yang menunjang suksesnya pembelajaran. Katakanlah ketersediaan media pembelajaran, sangat jauh berbeda. Perbedaan itu tampak sangat jelas manakala kita membadingkan sekolah kota dan sekolah di daerah. Lalu apakah sekolah hanya milik anak-anak bangsa yang hidup di kota? Tentu tidak bukan? Sebuah sekolah dengan posisi yang strategis baik lokasi, akademik maupun secara birokrasi pastilah dengan mudah mendapatkan media pembelajaran yang lebih dari cukup yang diperoleh dari dinas terkait. Tinggal penggunaannya bisa dimaksimalkan apa tidak? Itu masalah lain yang harus dibahas lebih lanjut oleh birokrat elit di dunia pendidikan.
Seandainya, sekolah kita analogikan sebagai sebuah bengkel, tentunya kita tidak bisa memukul rata bahwa bengkel memiliki perkakas yang lengkap dalam melayani konsumennya. Ada bengkel yang memiliki fasilitas sangat lengkap, bersih, dan nyaman, seperti bengkel-bengkel tunjukan dari sebuah perusahaan otomotif. Ada juga bengkel yang hanya memiliki alat seadanya, seperti bengkel-bengkel kecil dengan modal seadanya, kotor, penuh bekas oli dimana-mana. Lalu apakah etis seandainya dari kedua macam bengkel tadi kemudian dilakukan evaluasi (UASBN) dengan poin-poin evaluasi yang memaksa semua bengkel mengikuti kondisi yang ditetapkan oleh sang evaluator, tanpa memandang ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah tersebut? Ironis memang.
Melihat keadaan tersebut, kita sebagi guru haruslah berani memutar otak untuk menemukan cara atau celah supaya kita memiliki ketersediaan alat-alat penunjang pembelajaran. Inilah tantangan bagi kita untuk menguasai teknologi informasi. Betapa tidak? Saat kita berhadapan dengan internet, kita seperti dihadapkan pada sebuah perpustakaan yang memuat semua buku, peta, sejarah, media, dll. Semuanya tersedia, tinggal bagaimana kelihaian kita dalam mencari “alat-alat” itu di dunia internet yang tentunya gratis untuk diunduh. Tentunya kalau kita memiliki akses ke internet?
Iklah internet ke sekolah-sekolah sudah pernah lama kita saksikan di televisi. Tetapi apa faktanya sampai sekarang? Hanya beberapa sekolah yang memiliki akses ke internet. Itupun dengan biaya sendiri. Ironisnya lagi, di era 2010 ini masih ada juga sekolah yang belum memiliki komputer. Pantas saja kalau pendidikan di Indonesia menduduki peringkat 63 tingkat Internasional. Sebenanya akses internet untuk sekolah-sekolah adalah modal dasar baru bagi dunia pendidikan untuk memunculkan pendidikan yang bermutu di Indonesia. lalu kapan pihak terkait menginvestasikan sedikit dari anggarannya untuk meng-onlinekan seluruh sekolah di Indonesia?
Akankah jadi mimpi atau kenyataan? Selalu optimis… Karena dengan bersama pasti kita bisa.
(Follow up pelatihan ICT di UPT Pendidikan Kecamatan Undaan Kabupaten kudus. Keynote Speaker : Hindraswari Enggar D_-_Erlangga)
Empat Aspek Berbahasa
Aspek Mekanis Membaca <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } H3 { margin-top: 0.19in; margin-bottom: 0.19in; page-break-after: auto } H3.western { font-family: “Times New Roman”, serif; font-size: 13pt } H3.cjk { font-family: “Lucida Sans Unicode”; font-size: 13pt } H3.ctl { font-family: “Tahoma”; font-size: 13pt } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Membaca
Aspek Mekanis Membaca
Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca.
Lou E. Burmeister (1978), seorang pakar pendidikan bahasa Universitas Texas di El Paso, dalam Improving Speed of Comprehension in Reading mengawali uraiannya tentang Aspek Mekanis Membaca dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Bagaimana mata seseorang bergerak ketika mereka membaca? Apakah mata tersebut bergerak dengan lembut, seperti ketika mengawasi seekor burung yang sedang terbang atau menyaksikan pesawat terbang yang sedang mendarat? Atau apakah mata bergerak, berhenti, bergerak, berhenti lagi, bergerak lagi dan berhenti lagi?
Penelitian dalam ranah ini jelas menarik bagi para ilmuwan pendidikan yang banyak berhubungan dengan masalah penelitian akademis, sedangkan hasilnya diperkirakan banyak menarik minat para instruktur pengajaran bahasa yang lebih banyak berkiprah dalam ranah yang jauh lebih bersifat praktikal.
Salah satu metodologi yang digunakan untuk meneliti pergerakan mata, yang menurut penggagasnya dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja dalam kelas pengajaran bahasa, adalah dengan meminta salah seorang memperhatikan mata seseorang ketika dia sedang membaca. Apakah mata si pembaca bergerak dengan lembut? Jika mata tersebut bergerak dengan lembut, maka dapat dipastikan bahwa dia tidak sedang membaca, kata Lou E. Burmeister.
Lebih jauh pakar pendidikan ini mengatakan bahwa dalam kenyataannya, tentu saja berdasarkan hasil penelitiannya selama bertahun-tahun, kata (atau kata-kata) hanya dapat dibaca apabila mata tidak bergerak. Hanya apabila mata berhenti bergerak, atau terpusat pada satu bagian dari kata, pada satu kata, atau pada satu frase, maka barulah si pembaca mendapatkan apa yang dinamakan citra visual. Berikutnya, jika memang dikehendaki mata akan bergerak untuk kemudian berhenti lagi jika si pembaca ingin mendapatkan citra visual yang lain. Atau dengan kata lain, dalam membaca mata seorang pembaca haruslah berhenti, bergerak, berhenti lagi, bergerak lagi, dan seterusnya, jika dia menginginkan memahami apa yang dibacanya.
Dalam keadaan sebenarnya, khususnya ketika seseorang membaca secara berkelanjutan dan bukannya hanya satu kata saja, proses berhenti dan bergerak ini mungkin memerlukan waktu tidak lebih dari seperenam detik. George D. Spathe (1962) dalam Is This a Breakthrough in Reading? menyatakan bahwa lebar rentang jarak yang diperlukan sepasang mata dalam membaca tidak dapat melebihi tiga kata, atau dengan kata lain seorang pembaca yang paling cepat sekali pun, berdasarkan hasil penelitian ini, tidak akan mampu membaca lebih banyak dari tiga kata dalam satu periode tertentu sebelum dia menggerakkan kembali matanya menuju ke kelompok kata yang lain.
Dengan memahami kenyataan sederhana ini, yang semakin lama cenderung semakin dilupakan oleh para pengajar bahasa, diharapkan para pengajar dapat bersikap lebih arif jika mereka menggunakan sarana bacaan untuk mengajar murid-muridnya.
Setelah membaca tiga kata, mata pembaca harus bergerak pada kumpulan tiga kata berikutnya. Pergerakan inilah yang oleh para pakar pendidikan bahasa dinamakan saccadic sweep, sebuah pergerakan yang membutuhkan waktu paling cepat sekitar 1/30 detik. Waktu ini hanya dapat dilakukan oleh seorang pembaca yang baik dan tentunya waktu ini akan bertambah jika dilakukan oleh pembaca yang kurang baik.
Jadi, jika hasil kedua penelitian ini digabungkan, akan didapatkan bahwa jumlah waktu total yang dibutuhkan oleh seorang pembaca yang baik untuk membaca tiga buah kata dan kemudian berpindah pada kelompok tiga kata berikutnya adalah seperenam detik ditambah sepertiga puluh detik atau sama dengan seperlima detik. Atau dengan kata lain, dalam satu detik, seorang pembaca yang baik diperkirakan mampu membaca sekitar 15 kata, atau sekitar 900 kata dalam satu menitnya. Sebuah angka yang fantastis, bukan?
Tetapi dalam kenyataannya kemudian terbukti bahwa angka ini sulit sekali dicapai jika diingat bahwa kalimat-kalimat dalam satu bacaan tidak selalu berkelompok tiga-tiga, sehingga seorang pembaca harus melakukan gerakan saccadic sweep lebih banyak lagi untuk satu baris dan ini bermakna mengurangi jumlah kata yang mampu dibaca seseorang dalam satu menit.
Bagaimana Cara Mengenalkan Membaca Kepada Anak ?
Buku adalah jendela pengetahuan. Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara, bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Pendeknya, dengan membaca, wawasan pengetahuan kita akan semakin luas. Namun, sayangnya tidak semua anak gemar membaca. Nah, bagaimana caranya membuat anak kita gemar membaca?
Kenalkan buku sejak dini
Buku cerita yang cocok untuk balita adalah yang memiliki banyak gambar dengan tulisan yang sedikit. Gambar yang berwarna akan lebih menarik daripada gambar yang hitam putih. Biarkan anak memilih sendiri buku yang ingin dibacanya, sehingga ia lebih antusias dalam membaca.
Bacakan buku cerita dengan menarik
Dalam membaca cerita, usahakan sehidup mungkin sehingga anak dapat merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut. Atur nada suara dan bumbui dengan gerakan-gerakan tubuh yang berekspresi untuk membangun suasana yang hidup. Bahkan bayi pun dapat menikmati buku yang dibacakan, yaitu dari irama suara dan kehangatan tubuh pembaca yang memangkunya.
Model orang tua
Orang tua harus menjadi contoh yang baik. Bila orang tua gemar membaca, menyediakan bacaan yang memadai dan mengatur suasana rumah yang mendukung untuk membaca, maka niscaya anak akan ikut gemar membaca.
Menulis
Begitu banyak jenis tulisan kalau kita mau menggolong-golongkannya. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada berita hardnews dan analisa. Ada pula biografi, esai, artikel, skrip radio dan teve, editorial, weblog, surat cinta dan segudang lainnya. Jangan lupa, ada yang berkaitan dengan bisnis, seperti surat penawaran, minutes meeting, dan ribuan jenis business letter.
Lupakan dulu kategorisasi yang memusingkan kepala. Karena sebagian besar jenis tulisan bisa dikatakan baik dan benar bila memenuhi rumus baku yang sama. Yakni 5W + 1H. Itulah rumus sakti yang menjadi pegangan saya ketika menjadi jurnalis di Bisnis Indonesia, majalah PROSPEK dan terakhir di majalah SWA (ya, profesi awal saya adalah jurnalis, kurang lebih lima tahun saya menjalaninya dengan penuh suka cita).
Rumus macam apa itu? Sederhana sekali:
W1 = What
W2 = Who
W3 = When
W4 = Where
W5 = Why
H = How
WHAT adalah apa yang akan kita tulis. Tema apa yang ingin kita ungkapkan. Hal apa yang ingin kita tuangkan dalam tulisan. What ini bisa apa saja. Bisa soal “Lumpur Lapindo yang tidak selesai-selesai”, “Situs porno diharamkan dan akan diblokir Pemerintah”, “Bagaimana bisa menjadi kaya, sukses sekaligus mulia?” atau topik yang sedang hot di dunia gosip: “Apakah anak kandung Mayangsari juga anak kandung Bambang Tri?”.
What yang kita tentukan ini akan menjadi dasar untuk 4W lainnya. Mari kita ambil topik mengenai Mayangsari saja. Mumpung masih hangat.
WHO adalah siapa tokoh yang menjadi tokoh utama di WHAT. Dalam studi kasus ini, who-nya minimal bisa tiga tokoh: Mayangsari, Bambang Trihatmodjo, dan sang anak yang baru berusia dua tahun: Khirani Siti Hartina Trihatmodjo. Yang pertama dan kedua sudah amat terkenal. Sosok mereka sudah tertulis di mana-mana.
Meski Who is Mayangsari sudah banyak yang tahu, masih banyak sisi lain yang menarik untuk dieksplorasi. Bahkan kebungkamannya mengenai tes DNA anaknya, menjadikan sosoknya makin layak tulis, sampai-sampai bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya secara diam-diam dan bagaimana ia menjenguk ibunya di rumah sakit dijadikan bahan pemberitaan. Suasananya hati Mayangsari digali dengan baik sehingga makin menegaskan sosoknya dalam menghadapi isu anak kandungnya.
Buat kita, yang tidak perlu jadi wartawan untuk bisa menulis sebaik mereka, Who harus menjadi bagian yang berkaitan dengan What. Kalau kita ketemu Who yang tidak dikenal target pembaca kita, maka kita harus mengupasnya dengan baik sehingga jelas keterkaitannya dengan What.
WHEN adalah waktu kejadian WHAT. Ini yang sering diabaikan oleh banyak penulis pemula. Kapan kejadiannya akan memberi tambahan informasi dan imajinasi pembacanya.
WHERE adalah tempat kejadian WHAT. Meski kelihatannya sepele, tempat kejadian ini punya makna. Ketika Jose Mourinho berkunjung ke Milan tiga hari lalu misalnya, segera merebak isu ia mau pindah ke Inter Milan. Coba kalau ia perginya ke Bali, kemungkinan besar tak akan ada isu itu.
WHY adalah mengapa terjadi WHAT. Ini yang paling menarik karena bisa dikupas dari berbagai sudut. “Permintaan tes DNA keluarga mantan presiden Soeharto terhadap anak Mayangsari” bisa dikupas dari sisi hukum, keluarga maupun pribadi. Bahkan kalau mau diseret jauh hingga ke dunia mistis, misalnya minta diteropong oleh ahli nujum.
HOW adalah bagaimana WHAT terjadi, bagaimana prosesnya, lika-likunya, dan sejenisnya.
Yang jelas, dengan 5W+1H, tulisan kita dari segi kelengkapan informasi – sekali lagi: kelengkapan informasi — tidak akan mengecewakan pembaca kita. Kalau ada yang kecewa itu biasanya karena disebabkan oleh kekurangtepatan kita mengungkap WHY dan HOW-nya di mata pembaca.
Jangan salah faham: rumus ini bukan hanya untuk nulis artikel, esai atau tulisan serius lain. Bahkan surat lamaran kerja, undangan meeting, surat cinta bahkan diskusi pendek-pendek di berbagai milis, rumus ini amat penting untuk menghindari kesalahpahaman dan kekuranglengkapan informasi.
Cukupkah berbekal rumus baku di atas? Tidak. Bagi mereka yang ingin menulis dan mendapat respon pembacanya, ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dari rumus 5W+1H. Yakni “Daya Tarik Tulisan”. Nanti akan dibahas dalam tulisan berikutnya.
Menulis adalah hal yang mudah jika kita memulainya sejak kecil. Biasakan menulis hal hal kecil setiap hari seperti menulis catatan harian setiap hari. Jika sejak kecil kita sudah terbiasa menulis, maka saat kita dewasa nanti menulis merupakan hal yang mudah dan sudah biasa layaknya berbicara dengan orang lain. Jadi mulailah menulis sejak kecil *kalo kamu udah besar ya mulai dari sekarang*.
Cara terbaik untuk mulai menulis menurut versiku adalah dengan membaca. Menurutku, menulis itu berawal dari membaca. Saat kita membaca, maka sebenarnya kita sedang belajar menulis. Sebagian besar ide yang kita tulis pasti berasal dari membaca. Kesimpulannya, agar menulis menjadi lebih mudah, kita harus lebih banyak membaca.
Selain membaca, kita juga harus mencari cara menyampaikan informasi atau style tulisan kita. Membuat style tulisan kita sendiri adalah hal yang sangat sulit, namun jika berhasil, ini adalah jurus yang ces-pleng J. Untuk membuat tulisan yang bagus tidak perlu membuat style kita sendiri *kalo bisa ya gak papa sih malah lebih bagus*. Kita cuma perlu menyatukan style tulisan-tulisan orang lain menjadi sebuah style baru *kan = bikin style baru*. So, Mulai sekarang, bikin style baru !!!
Cara memulai menulis yang paling gampang adalah menulis yang pendek-pendek. Praktek yang paling gampang adalah dengan menulis posting kron di layanan microblogging. Yang bikin gampang, layanan ini membatasi jumlah karakter dalam posting kita hanya 140 karakter. Dengan jumlah yang sedikit itu, kita tidak perlu terlalu banyak mencari ide, sehingga akan lebih mudah untuk belajar menulis. Tulis posting kron sebanyak banyaknya sampai kita merasa kurang tempat untuk menulis. Inilah saat yang tepat untuk berpindah ke blog yang sebenarnya.
Ini tips yang mungkin sebagian orang tidak suka tapi bisa membuat banyak orang tertarik untuk terus membaca. Yaitu menggunakan emoticon. Jika kamu menulis menggunakan text 100%, tulisanmu akan terasa hambar, kecuali style mu memang bagus. Emoticon akan menggambarkan emosimu saat menulis, memberi warna pada tulisanmu, dan menambah “rasa” pada tulisanmu.
Sekarang, mari kita gabungkan keempat tips diatas.
-
Pertama baca referensi untuk hal yang akan kamu tulis. Semakin banyak referensi, semakin berkualitas pula tulisanmu.
-
Lalu, cari beberapa style tulisan yang kamu anggap bagus lalu gabungkan. Buat style mu seunik mungkin namun tetap mudah dipahami *ini contohnya*
-
Mulai menulis posting-posting kron yang disertai emoticon atau smiley yang sesuai. Semakin lama, tulisanmu akan semakin panjang. Ketika mencapai panjang maksimum, berpindahlah ke layanan blogging yang sebenarnya *bukan kron lagi
Mendengarkan
PERANAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA
Pendahuluan.
Guru merupakan factor penting dalam pendidikan formal, karena itu harus
memiliki perilaku dan kemampuan untuk mengembangkan siswanya secara optimal.
Guru juga dituntut mampu menyajikan pembelajaran yang bukan semata-mata
menstranfer pengetahuan, ketrampilan, dan sikap, tetapi juga memiliki kemampuan
meningkatkan kemandirian siswa. Oleh karena itu guru dituntut sanggup menciptakan
kondisi proses pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berpikir
dan berpendapat sesuai perkembangan yang dimiliki, untuk itu guru dituntut
meningkatkan kompetensi dirinya.
Dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, peranan guru amatlah
diharapkan, sehingga kegiatan belajar mengajar siswa dapat tercapai. Jadi guru
diharapkan dapat melaksanakan tugasnya secara baik sesuai profesinya. Guru sebagai
sebuah profesi untuk itu penguasaan berbagai hal sebagai kompetensi dalam
melaksanakan tugas harus ditingkatkan. Peningkatan kompentensi itu yaitu dalam proses
belajar mengajar antara lain memilih dan memanfaatkan metode belajar mengajar yang
tepat.
Guru yang dapat memilih dan memanfaatkan metode mengajar dengan baik
merupakan salah satu cirri guru yang efektif sehingga mampu mengembangkan siswa
secara professional. Pengembangan siswa dengan mengutamakan siswa yang aktif
dengan cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa tentu sangat
diharapkan suasana itu dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
(PAKEM) berarti peranan guru sangatlah besar. Metode yang berfariasi dapatlah kiranya
untuk menunjang kegiatan ini.
Tidak heran setiap akhir tahun pembelajaran selalu terdengar berita tentang
masyarakat yang selalu mempermasalahkan rendahnya mutu pendidikan pada semua
jenis dan jenjang pendidikan, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. Tuntutan
standar kelulusan yang harus dicapai siswa menjadi masalah bagi guru maupun
lingkungan pendidikan, bahkan sangat mengkhawatirkan bila pada tahun ini peristiwa
pengumuman kelulusan seperti tahun lalu. Siswa yang tidak lulus berjumlah tidak sedikit.
Pada umumnya masyarakat kurang menyadari bahwa siswa SD merupakan
siswa yang baru memulai perubahan dari masa kanak-kanak menuju usia remaja. Orang
tua menyerahkan pendidikan anaknya sepenuhnya pada sekolah. Mereka hendaknya
mendapat pendidikan tidak hanya dari sekolah (guru) saja, tetapi juga masing-masing
orang tua berperan besar untuk membentuk potensi diri anak. Hal ini tidak dapat hanya
menyalahkan guru, tetapi merupakan kerja sama antara pendidik (guru) dan orang tua.
Namun sebagai guru untuk melayani pendidikan sesuai usia remaja, maka
diperlukan pelayanan guru dengan merancang suatu program pembelajaran yang dapat
meningkatkan kompetensi siswanya, misalnya dengan merancang program pembelajaran
yang menyenangkan karena belajar yang menyenangkan tidak ada lagi batasan dalam diri
siswa. Kecerdasan siswa dapat berkembang sehingga kompetensi yang telah dimiliki
dapat meningkatkan nilai-nilai prestasi yang diharapkan. Selain itu juga dapat
meningkatkan kehormatan diri dan motivasi mereka.
Menciptakan suatu program pembelajaran yang menyenangkan adalah salah satu
cara dengan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator, motivator, konselor, dan
evaluator. Diharapkan peranan itu dapat dimanfaatkan oleh guru agar dapat mewujudkan
“Sumber Daya Manusia Unggul dan Bermartabat”. Agar sumber daya manusia itu dapat
diwujudkan maka seorang guru diharapkan dapat sebagai fasilitator, konselor, motivator,
dan evaluator, maka perubahan paradigma dalam pembelajar baru harus diciptakan.
Pembelajaran Paradigma Baru.
Belajar itu adalah proses, maka yang paling berharga dalam belajar adalah
“Bagaimana Cara Belajar”. Dalam pembelajaran paradigma baru kegiatan belajar pada
minggu pertama, kegiatan menekankan pada upaya menciptakan susasana belajar aman
dan penuh kepercayaan di antara siswa. Dengan cara demikian memungkinkan siswa
belajar lebih efektif dan menyerap serta mengingat materi pelajaran. “Belajar untuk
menambah informasi maka saya tahu, menyimpan informasi maka saya hafal,
memperoleh informasi saya bisa menjawab semua pertanyaan, memahami informasi saya
mengerti, dan memahami kenyataan yang ada dan saya dapat melihat kejadian itu dari
sisi lain”. (Bahan Diklat Guru Bahasa Indonesia, 2005). Proses belajar tersebut,
merupakan proses belajar dalam arti yang dangkal menuju proses belajar dalam arti yang
dalam.
Belajar dalam arti yang dalam adalah salah satu proses usaha individu untuk aktif
mengkonstruksi/membangun pengetahuan serta senantiasa mengkonstruksinya kembali
dengan sejumlah pengetahuan baru. Upaya menciptakan suasana belajar yang aman dan
penuh kepercayaan, agar pemelajaran belajar dalam proses aktif sehingga pemelajaran
mampu dikembangkan untuk menjadi individu yang mandiri dalam belajar. Untuk
mewujudkan suasana itu, maka diperlukan lingkungan sehingga semua siswa merasa
penting, aman dan nyaman dengan demikian ketrampilan akademis dan ketrampilan
dalam hidup dapat dicapai.
Pergeseran Paradigma / Perubahan Sikap.
Perubahan paradigma / perubahan sikap guru yang harus dipersiapkan adalah
konsep belajar, peran guru dan teknik mengajar, teknik belajar serta sikap mengajar. Oleh
karena pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajar pokok, maka
konsep belajar pun diciptakan sesuai fungsinya yaitu bahasa sebagai alat komunikasi,
maka diharapkan ketrampilan berbahasa tetap pada tatanan empat aspek ketrampilan
berbahasa. Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, pada pembelajaran bahasa
Indonesia kegiatan berbahasa mencakup empat aspek ketrampilan yaitu : mendengarkan,
berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek itu haruslah diajarkan secara terpadu,
bersinergi satu sama lainnya, seimbang dan saling mendukung. Selain keempat aspek
penguasaan ketrampilan berbahasa itu, juga harus dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam bernalar, berpikir, memperluas wawasan serta mampu mendukung kegiatan
bersastra. Kegiatan ketrampilan berbahasa diharapkan dapat menunjang ketrampilan
akademis lainnya.
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, belajar adalah mempelajari berbagai hal
secara terus menerus dalam pengalaman hidupnya. Siswa adalah peserta yang aktif.
Sehingga siswa belajar adalah siswa mempelajari berbagai hal secara terus menerus
sedangkan sekolah merupakan tempat untuk belajar. Kegiatan belajar adalah kegiatan
sepanjang hayat, kegiatan yang tidak berhenti pada siswa tamat atau selesai sekolah,
maka peran guru dan teknik mengajar perlu diperhatikan.
Di dalam proses belajar, menurut Bruner (2001) dapat dibedakan menjadi tiga
fase/episode, yaitu (1) Informasi, (2) Tranformasi, (3) Evaluasi. Dalam tiap pelajaran
diperoleh sejumlah informasi, baik yang menambah pengetahuan, memperluas, dan
memperdalamnya maupun informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita
ketahui sebelumnya.
Setelah informasi diperoleh, maka harus dianalisis, diubah dan ditranspormasi ke
dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual, agar dapat digunakan untuk hal-hal
yang lebih luas. Dalam hal ini peran guru sangat diperlukan. Untuk itu guru perlu
memiliki kemampuan yang professional. Perlunya kemampuan guru dalam proses belajar
mengajar karena uru merupakan pendidik dan pengajar yang menyentuh kehidupan
pribadi siswa. Teknik mengajar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dapat
dirancang dengan memperhatikan materi, cara belajar siswa disesuaikan dengan usia
siswa SD.
Peran Guru Dan Teknik Mengajar.
Peran guru sebagai fasilitator, peranannya adalah sebagai penyedia yang bersifat
sebagai pendukung kebutuhan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan konsep
belajar di atas bahwa belajar adalah suatu proses, maka dalam proses ketrampilan
mendengarkan dipersiapkan terlebih dahulu adalah siswanya, selain itu materi yang
sangat penting untuk menjadi suatu proses belajar berlangsung, guru dapat menyiapkan
teks / wacana yang dibacakan atau menyediakan rekaman teks dalam kaset maka Tape
Recorder dipersiapkan.
Teknik dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara bervariasi, misalnya
sebelum pelaksanaan pembelajaran, guru terlebih dahulu memutar lagu atau bernyanyi
bersama. Hal ini dilakukan agar siswa menyiapkan diri dalam pembelajaran sehingga
tidak stres.
Mendengarkan (menyimak) merupakan ketrampilan berbahasa yang sangat
penting dalam kehidupan manusia. Hal ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia
untuk mendapatkan suatu informasi. Pada masa sekarang bahwa mendengarkan
(menyimak) lebih banyak dilakukan manusia sebagai bentuk penyerapan informasi dari
pada ketrampilan berbahasa lainnya. Hal ini disadari karena banyaknya informasi melalui
media elektronik maka membutuhkan kecepatan dan kecermatan menyimak.
Dalam ketrampilan berbicara, guru dapat merancang pembelajaran sesuai
kompetensi yang harus dikuasai. Berbicara merupakan ketrampilan berbahasa lisan maka
materi pelajaran diarahkan pada pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa, memberikan
pengetahuan dan ketrampilan yang perlukan oleh siswa untuk mengembangkan potensi
dirinya baik secara individu maupun kelompok sesuai kebutuhan siswa. Teknik
pelaksanaannya dapat dilakukan dengan belajar mengucapkan kata-kata dengan vocal dan
intonasi yang benar kemudian kegiatan intinya sesuai indikator yang harus dicapai.
Materi disesuaikan dengan tuntutan kecakapan hidup sesuai kurikulum.
Ketrampilan membaca dan menulis merupakan ketrampilan yang sangat erat
hubungannya karena setiap kegiatan membaca dihubungkan dengan kegiatan menulis.
Peran guru harus dapat memfasilitasi sesuai dengan kebutuhan. Menciptakan lingkungan
belajar yang kondusip sangat diharapkan. Khusus dalam hal ketrampilan menulis,
pembelajaran diarahkan agar mampu menuangkan segala pikiran, pengalaman, pesan
perasaan, gagasan, pendapat imajinasi dalam bentuk bahasa tulisan secara benar.
Kebenaran itu dapat dilihat dari segi kebahasaan, isi dan makna. Tulisan dapat
didokumentasikan dan dapat dilihat dan dibaca ulang. Oleh karena itu pembelajaran
menulis bagi siswa harus dianggap penting.
Pentingnya pembelajaran menulis, maka guru harus sering melatih siswa dengan
berbagai cara. Untuk mengaktifkan kegiatan menulis, berarti mengaktifkan otak kiri dan
otak kanan dalam pembelajaran. Hal ini tidaklah mudah, persiapan kegiatan harus
dirancang sebaik mungkin. Menurut Sudjana dan Suwariyah (1999) ada beberapa kondisi
dan persyaratan yang harus diciptakan guru dalam pembelajaran menulis, antara lain :
aspek psikologi anak, lingkungan dan suasana belajar, bantuan atau bimbingan dari guru
sangat diperlukan.
A. Aspek Psikologi Aanak.
Yang dimaksud aspek psikologi anak adalah kondisi mental, sosial dan emosional
siswa pada saat ia mengikuti proses pembelajaran (Sudjana dan Suwariyah, 1991).
Aspek ini harus dikembangkan dengan baik agar siswa beraktifitas dengan kreatif,
dan mengembangkan daya nalar dengan baik. Aspek social dan emosional juga
penting, karena hubungan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru
atau siswa dengan lingkungan belajar lainnya. Kesetiakawanan dan kebersamaan
harus ditumbuhkan sehingga menjadi manusia yang kokoh dan harmonis.
B. Lingkungan dan Suasana Belajar.
Yang dimaksud dengan suasana dan lingkungan belajar adalah keadaan atau
suasana pada saat pembelajaran berlangsung (Sudjana dan Suwariyah, 1991). Akan
berlangsung baik bila lingkungan dan suasana belajar nyaman, tidak membosankan
dan diharapkan siswa berkeinginan untuk kembali belajar. Dalam hal ini guru dapat
mempersiapkan kelas atau ruangan lain yang dapat menunjang pembelajaran,
misalnya : halaman (taman sekolah, perpustakaan).
C. Bimbingan dan Bantuan Belajar Dari Guru.
Peran guru sebagai pembimbing adalah menjadi tempat bertanya bagi siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar, memberi bantuan dengan menunjukkan jalan
untuk memecahkan masalah, memperbaiki kesalahan yang dilakukan siswa, memberi
dorongan dan motivasi belajar. Dalam kegiatan tersebut, berarti guru harus berada
dalam lingkungan proses pembelajaran.
Peran Guru Sebagai Motivator.
Dari keempat aspek ketrampilan berbahasa di atas yang telah diuraikan, maka
peran untuk memotivasi siswa tetaplah diharapkan, misalnya mendorong siswa agar tetap
berkonsentrasi pada kegiatan belajar. Selain itu juga mengajak siswa untuk melakukan
refleksi diri, misalnya menyisihkan waktu untuk memikirkan siapa sebenarnya diri siswa,
apa yang menyebabkan rasa puas, dll.
Peran Guru Sebagai Konselor.
Peran ini seperti yang telah diuraikan pada aspek bimbingan dan bantuan belajar
guru. Hal ibi, guru dapat memberi bantuan pada setiap pembelajaran sewaktu-waktu
siswa membutuhkan maka bantuan nasehat untuk siswa dapat diberikan. Jadi, selain guru
memegang mata pelajaran sebagai guru, juga bertugas melayani konseling.
Peran Guru Sebagai Evaluator.
Peran sebagai evaluator, bahwa setiap pembelajaran melakukan evaluasi sesuai
indikator yang harus dicapai. Dalam mengevaluasi guru hendaknya kreatif dengan
berbagai cara mengevaluasi dan memberikan penguatan agar keberhasilan belajar siswa
dapat dirasakan. Dalam memberikan penilaian, guru dapat berkreatifitas membuat nilai
dengan memberikan tanda bintang yang dibuat atau ditempal pada sebuah karton yang
berbentuk buah atau bunga, lalu ditutup. Pada sisi luar digambar raut wajah sesuai isi
bintang, misalnya bintang satu wajah sedih, bintang dua wajah tersenyum, bintang tiga
senyum agak lebar, dan bintang empat senyum lebar, sedangkan gambar bintang lima
tertawa sambil mengangkat tangan.
Cara menyampaikan penilaiannya yaitu setelah para siswa mempresentasikan
hasil kerja kelompoknya dan telah ditanggapi oleh kelompok lain. Selanjutnya guru akan
menguji keberhasilan anggota kelompok dengan pertanyaan sehubungan dengan materi.
Apabila siswa dapat menjawab benar, maka siswa tersebut berhak membuka nilai yang
telah ditempel atau digantung pada papan tulis.
Teknik Belajar.
Dalam teknik belajar terbagi menjadi enam tipe utama, yaitu (1) Visual Internal,
(2) Visual Eksternal, (3) Auditory Internal, (4) Auditory Eksternal, (5) Kinestetik
Internal, (6) Kinestetik Eksternal. (Ramly, 2004).
1. Teknik belajar Visual Internal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan
penglihatan dan mengeksplorasikan imajinasinya. Cara yang praktis adalah
dengan menghidupkan imjinasi tentang hal yang akan dipelajari (Ramly, 2004).
2. Teknik belajar Visual Eksternal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan
penglihatan dengan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis
adalah membaca buku dengan tampilan yang menarik, menggunakan grafik dan
gambar, pemanfaatan computer, poster, pembubuhan warna-warna yang menarik
(Ramly, 2004).
3. Teknik belajar Auditory Internal adalah cara belajar dengan menyukai
lingkungan yang tenang. Dalam proses belajar, mengoptimalkan pendengaran dan
mengekspolrasikan dunia dalam dirinya. Cara praktis dalam proses belajar ini
adalah meluangkan waktu yang tenang untuk memulai belajar dan merenungkan
apa yang sudah diketahui (Ramly, 2004).
4. Teknik belajar Auditory Eksternal adalah cara belajar dengan mengoptimalkan
pendengarannya dengan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis
dalam proses pembelajarannya adalah membaca dengan suara keras,
menggunakan sesi Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok (Ramly, 2004).
5. Teknik Kinestetik Internal adalah cara belajar dengan menyentuh rasa. Agar
belajar efektif proses belajar dengan pemahaman terlebih dahulu, temukan faedah
dari aktivitas siswa, gunakan alat Bantu atau dalam bentuk demo. Proses belajar
seperti ini cenderung bergantung pada lingkungan (Ramly, 2004).
6. Teknik Kinestetik Eksternal adalah proses belajar dengan mengoptimalkan emosi
yaitu dengan beradabtasi terlebih dahulu dengan dunia luar dirinya. Proses belajar
yang efektif yaitu dengan kemampuan panca indra, misalnya dengan
menggunakan model, memainkan peran dengan membuat peta pikiran.
Berdasarkan teknik atau cara belajar yang bermacam-macam, maka guru
dituntut merancang program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan talenta siswa. Guru diharapkan dapat mengembangkan
kemampuannya untuk bersikap mengajar dengan baik. Sikap mengajar tersebut
antara lain bersikap demokratis, kreatif, dan inovatif.
Guru bersikap demokratis adalah sikap guru yang memberikan persamaan
hak dan kewajiban yang sama bagi siswa. Guru yang kreatif adalah guru yang
mampu mengembangkan kreatifitas dalam program pembelajaran misalnya
menciptakan program pembelajaran baru dengan media yang mutakhir sesuai
dengan perkembangan jaman, sedangkan guru yang bersifat inovatif adalah guru
yang mampu melakukan pembaharuan dengan kreasi baru, mencoba memecahkan
masalah pendidikan dengan cara-cara baru.
Apabila sikap guru dapat terwujud, maka akan berimbas pada keberhasilan
siswa dalam belajar, siswa aktif, mandiri, kritis dan kompetitif.
Berbicara
KETERAMPILAN BERBICARA
RHETORIKA DAN BERBICARA EFEKTIF
Dengan mulut kita dapat berbicara. Berbicara adalah merupakan suatu aktivitas kehidupan manusia normal yang sangat penting, karena dengan berbicara kita dapat berkomunikasi antara sesama manusia, menyatakan pendapat, menyampaikan maksud dan pesan, mengungkapkan perasaan dalam segala kondisi emosional dan lain sebagainya.
Kalau diamati dalam kehidupan sehari-hari, banyak didapati orang yang berbicara. Namun tidak semua orang didalam berbicara itu memiliki kemampuan yang baik didalam menyampaikan isi pesannya kepada orang lain sehingga dapat dimengerti sesuai dengan keinginannya, dengan kata lain, tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik didalam menyelaraskan atau menyesuaikan dengan detail yang tepat antara apa yang ada dalam pikiran atau perasaannya dengan apa yang diucapkannya sehingga orang lain yang mendengarkannya dapat memiliki pengertian dan pemahaman yang pas dengan keinginan si pembicara.
Untuk penyampaian hal-hal yang sederhana mungkin bukanlah suatu masalah, akan tetapi untuk menyampaikan suatu ide/gagasan, pendapat, penjelasan terhadap suatu permasalahan, atau menjabarkan suatu tema sentral, biasanya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi bagi seorang pembicara yang belum terbiasa, bahkan tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik. Dibutuhkan suatu keterampilan atau kecakapan dengan proses latihan yang secukupnya untuk dapat tampil dengan baik menjadi seorang pembicara yang handal.
Keterampilan berbicara pada dasarnya harus dimiliki oleh semua orang yang didalam kegiatannya membutuhkan komunikasi, baik yang sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya. Seseorang yang memiliki ketermapilan berbicara yang baik, akan memiliki kemudahan didalam pergaulan, baik di rumah, di kantor, maupun di tempat lain. Dengan keterampilannya segala pesan yang disampaikannya akan mudah dicerna, sehingga komunikasi dapat berjalan lancar dengan siapa saja.
Disadari bahwa keterampilan berbicara seseorang, sangat dipengaruhi oleh dua faktor penunjang utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah segala sesuatu potensi yang ada di dalam diri orang tersebut, baik fisik maupun non fisik (psykhis), faktor pisik adalah menyangkut dengan kesempurnaan organ-organ tubuh yang digunakan didalam berbicara misalnya, pita suara, lidah, gigi, dan bibir, sedangkan faktor non fisik diantaranya adalah: kepribadian (kharisma), karakter, temparamen, bakat (talenta), cara berfikir dan tingkat intelegensia. Sedangkan faktor eksternal misalnya tingkat pendidikan, kebiasaan, dan lingkungan pergaulan. Namun demikian, kemampuan atau keterampilan berbicara tidaklah secara otomatis dapat diperoleh atau dimiliki oleh seseorang, walaupun ia sudah memiliki faktor penunjang utama baik internal maupun eksternal yang baik. Kemampuan atau keterampilan berbicara yang baik dapat dimiliki dengan jalan megasah dan mengolah serta melatih seluruh potensi yang ada.
Pada dasarnya seorang pembicara yang handal adalah seseorang yang ketika ia berbicara, baik dalam komuniasi formal (presentasi, ceramah, dll.) maupun informal (pergaulan) memiliki daya tarik yang rhetoris (mempesona) dengan isi pembicaraan yang efektif (sistematis, benar/tepat, singkat dan jelas dengan bahasa yang tepat) sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dengan jelas dan tergugah perasaannya.
Singkatnya, semua orang apapun profesinya, bila didalam kegiatannya menggunakan komunikasi (pembicaraan) sebagai sarananya, maka ia perlu memiliki keterampilan berbicara, terlebih lagi sebagai seorang tenaga pendidik, penyiar, atupun profesi lainnya.
RHETORIKA
Salah satu dari sekian banyak jenis keterampilan yang penting untuk dimiliki oleh setiap orang adalah keterampilan berbicara atau seni berbicara. Hal ini menjadi penting bahkan sangat urgen, karena tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini sebagai manusia normal kita tidak mungkin lari dari kenyataan bahwa kita dalam berinteraksi dengan sesama manusia harus menggunakan suatu bentuk atau cara yang disebut komunikasi, khususnya bahasa verbal atau lisan.
Nuansa ini memberikan aksentuasi kepada kemampuan manusia di dalam menggunakan lambang-lambang kata, simbol-simbol maupun isyarat lainnya dalam proses komunikasinya sehingga tujuan komunikasi tercapai. Di dalam kenyataannya bahwa proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia, baik secara pribadi maupun secara kelompok tidak jarang ditemukan adanya kegagalan di dalam mencapai tujuan komunikasi. Hal ini disebabakan oleh adanya kekurangmampuan komunikator dalam mengaplikasikan secara lebih baik lambang-lambang kata, simbol-simbol maupun isyarat lainnya dalam proses komunikasi, atau mungkin juga disebabkan oleh faktor lainnya yang tidak/kurang menguntungkan bagi kondisi di saat berlangsungnya proses komunikasi tersebut.
Dari fenomena tersebut di atas maka seorang komunikator dalam profesi apapun yang menggunakan bahasa lisan sebagai media penyampaiannya, dipandang perlu membekali diri dengan suatu keterampilan atau seni di dalam berbicara atau dalam istilahnya “Rhetorika”.
-
Pengertian/Defenisi Rhetorika
Rhetorika dapat diartikan secara “etimologi” dan “terminologi”. Adapun hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
-
Secara etimologi (berdasarkan asal kata), rhetorika berasal dari :
-
Bahasa Latin (Yunani kuno) “Rhetorica” yang artinya seni berbicara.
-
Bahasa Inggris “Rhetoric” yang berarti kepandaian berpidato atau berbicara.
-
-
Secara terminologi (pengertian secara istilah) adalah :
Didalam bahasa Inggris rhetorika dikenal dengan istilah “The art of speaking” yang artinya seni di dalam berbicara atau bercakap. Sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa rhetorika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari atau mempersoalkan tentang bagaimana caranya berbicara yang mempunyai daya tarik yang mempesona, sehingga orang yang mendengarkannya dapat mengerti dan tergugah perasaannya.
Sebagai bahan komparasi (pembanding) maka berikut ini ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar di bidang rhetorika yang diantaranya adalah :
-
Richard E. Young cs, mengatakan bahwa rhetorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita menggarap masalah wicara-tutur kata secara heiristik, epistomologi untuk membina saling pengertiandan kerjasama.
-
Socrates mengemukakan bahwa rhetorika mempersoalkan tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya. Karena dengan dialog kebenaran dapat timbul dengan sendirinya.
-
Plato mengungkapkan bawha rhetorika adalah kemampuan didalam mengaplikasikan bahasa lisan yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan sempurna.
-
Drs. Ton Kertapati mengartikan rhetorika sebagai kemampuan seseorang untuk menyatakan pikiran dan perasaannya dengan menggunakan lambang-lambang bahasa.
Dari beberapa defenisi tersebut di atas, apapun defenisi dan siapapun yang mengemukakannya semua mengacu dan memberi penekanan kepada kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan gaya (seni) didalam penyampaiannya dengan tujuan untuk memikat/menggugah hati pendengarnya dan mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya.
Kemampuan untuk menjadi pembicara yang handal tidaklah diperoleh secara otomatis atau hanya mengandalkan bakat yang besar dan pembawaan (kharismatik) semata, tetapi juga dapat dipelajari dan atau melalui latihan yang banyak (Dr. Dale Carnigie).
-
Latar Belakang Sejarah
Istilah rethorika muncul bermula di Yunani sekitar abad ke-5 sebelum masehi. Pada saat itu adalah merupakan masa kejayaan Yunani sebagai pusat kebudayaan barat dan para filsufnya saling berlomba untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Pengaruh kebudayaan Yunani ini menyebar sampai ke dunia timur seperti Mesir, India, Persia, bahkan Indonesia dan lain-lain.
Rhetorika mulai berkembang pada jaman Socrates, Plato, dan Aristoteles. Selanjutnya rhetorika kemudian berkembang menjadi suatu ilmu pengetahuan, dan yang dianggap sebagai guru pertama dalam ilmu rhetorika adalah Georgias (480 – 370 SM).
-
Jenis-Jenis Rhetorika
Dari segi kepentingannya atau tujuan yang ingin dicapai, rhetorika dapat dibagi dalam dua bahagian, yaitu :
-
Rhetorika Persuasif
Rhetorika persuasif adalah rhetorika yang bertujuan mempengaruhi orang dengan tidak begitu memperhatikan/mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran dan moralitas. Rhetorika yang seperti ini dapat kita jumpai dimana-mana, contohnya adalah rhetorika yang digunakan oleh sebagian besar penjual obat kaki lima dalam menawarkan dagangannya, dll.
-
Rhetorika Dialektika
Rhetorika dialektika yang sering juga disebut dengan rhetorika psikologi, adalah rhetorika yang muncul sebagai kebalikan dari rhetorika persuasif, dimana rhetorika ini sangat memperhatikan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, moralitas dan sifatnya dapat menenangkan jiwa manusia. Tujuan utama rhetorika ini mengarah kepada pembinaan spiritual. Rhetorika yang seperti ini umumnya digunakan didalam ceramah-ceramah agama.
-
Tujuan Rhetorika
Tujuan rhetorika adalah berusaha untuk membentuk opini publik atau menggiring pendapat umum ke arah pendapat pembicara, atau minimal pendengar (audience) tidak membantah terhadap apa yang dikemukakan oleh si pembicara (komunikator).
-
Langgam-Langgam Dalam Rhetorika
Dalam rhetorika langgam diartikan sebagai cara, ragam, atau gaya suatu bahasa (pembicaraan). Langgam-langgam rhetorika dapat dibagi atas :
-
Langgam Agitasi
Langgam agitasi adalah langgam yang kebanyakan dipakai dalam rhetorika persuasif. Langgam ini biasanya digunakan untuk membakar semangat, misalnya oleh demonstran.
-
Langgam Teater
Langgam teater adalah langgam yang digunakan oleh para pemain teater dalam berdialog.
-
Langgam Agama
Langgam agama adalah langam yang biasa digunakan oleh para muballigh atau para pendeta dalam penyampaian ceramahnya.
-
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Rhetorika
Keberhasilan suatu rhetorika didalam berbicara sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:
-
Situasi
Situasi yang dimaksudkan adalah hal-hal yang menyangkut keadaan atau kondisi saat pembicaraan/ceramah sedang berlangsung. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
-
-
Tingkat pengetahuan pendengar. Yaitu menyangkut latar belakang level pengetahuan dari pendengar (audience).
-
Formal atau informal. Hal ini menyangkut apakah kita berbicara dalam suatu situasi yang formal (forum resmi) atau dalam situasi biasa atau kekeluargaan (informal)
-
Sedih atau gembira. Berbicara di depan orang yang berada dalam situasi sedih tentunya sangat berbeda dibandingkan dengan ketika kita tampil berbicara di depan orang yang sedang dalam keadaan gembira. Untuk itu seorang pembicara harus mengetahui betul situasi dan kondisi pendengarnya.
-
-
Ruang
Hal ini adalah tentang tempat dimana kita sedang berbicara, misalnya di dalam ruangan gedung ataukah di lapangan.
-
Waktu
Yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah, disamping waktu yang sebenarnya yaitu apakah pagi, siang, sore atau malam, juga tentang isi materi yang akan dibicarakan, apakah hal tersebut masih aktual ataukah sudah usang atau basi.
-
Tema
Sebuah tema sangat penting artinya dalam suatu pembicaraan, sehingga didalam pembicaraan seorang pembicara ia dapat fokus atau terarah. Sangat disarankan seorang pembicara hanya menggunakan satu tema pembicaraan sehing didalam pembicaraannya ia tidak ngawur atau mengambang yang dapat mengakibatkan isi pembicaraan susah dipahami oleh pendengar. Namun jika terpaksa harus lebih dari satu, maka selesaikanlah satu tema pembicaraan kemudian pindah ke tema yang lainnya.
-
Isi atau Materi
Isi pembicaraan hendaknya sesuai dengan tema yang telah dipersiapkan dengan mantap sebelumnya dan menarik minat pendengar. Daya tarik suatu materi juga akan sangat menentukan keberhasilan suatu pembicaraan. Adapun yang dapat menjadi pemicu rasa ketertarikan pendengar diantaranya adalah :
-
-
-
Up to date, masalah yang dibicarakan adalah masalah yang sedang hangat-hangatnya di dalam masyarakat.
-
Merupakan suatu yang menyangkut kepentingan pendengar.
-
Masalah yang mengandung pertentangan publik, benar-salah, baik-buruk.
-
Sesuai dengan kemampuan logika pendengar, dll.
-
-
-
Teknik Penyajian
Teknik yang dimaksudkan disini adalah cara-cara yang digunakan didalam berbicara, meliputi :
-
-
Kemampuan menggunakan bahasa lisan dengan baik. Dalam hal ini seorang pembicara hendaknya memiliki kemampuan tata bahasa yang baik, artikulasi yang jelas dan tidak cadel, intonasi yang menarik (tidak monoton), aksen yang tepat, dan tidak terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak perlu.
-
Ekspresi (air muka) yang menarik, misalnya: tidak cemberut, tidak pucat, tidak merah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat penting untuk memikat minat dengar atau rasa ingin tahu dari pendengar.
-
Stressing (redance), yaitu kemampuan seorang pembicara untuk memberikan penekanan pada masalah-masalah inti atau penting didalam pembicaraannya, misalnya dengan pengulangan-pengulangan yang seperlunya, atau dengan penekanan-penekanan tertentu dalam nada pembicaraan.
-
Kemampuan memberikan refreshing (penyegaran) dengan menyelipkan intermezzo, yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdot, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan. Hal ini dimaksudkan agar pendengar tidak terlalu stress yang bisa menimbulkan kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti pembicaraan kita.
-
Kepribadian atau personality. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah disamping daya pesona atau kharismatik seseorang, juga meliputi nilai-nilai pribadi seorang pembicara, diantaranya: jujur, cerdik, berani, bijaksana, berpandangan baik, percaya diri, tegas, tahu diri, tenang dan tenggang rasa.
-
BERBICARA EFEKTIF
Tampil berbicara dengan hanya mengandalkan teknik rhetorika, nampaknya tidaklah cukup untuk menjadi seorang pembicara yang handal. Karena bagimanapun hebatnya daya pesona yang ditimbulkan oleh seorang pembicara dalam penampilannya tanpa didukung oleh efektifitas pembicaraan yang dibawakannya, maka apa yang disampaikannya itu akan berlalu begitu saja tanpa menimbulkan kesan yang mendalam, atau dengan kata lain efek pesan yang disampaikannya itu hanya bertahan sampai selesainya pembicaraan, begitu pembahasan selesai maka selesai pulalah segalanya.
Untuk itulah maka disamping seorang pembicara perlu memiliki rhetorika yang baik, ia juga perlu menguasai apa yang disebut berbicara yang efektif. Berbicara efektif merupakan sarana penyampaian ide kepada orang atau khalayak secara lisan dengan cara yang mudah dicerna dan dimengerti oleh pendengarnya. Hal itu dapat terjadi jika pembicaraannya sistematis, benar, tepat dan tidak berbelit-belit dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar.
-
Dasar-Dasar Berbicara Efektif
Pada dasarnya berbicara efektif pada kesempatan apapun terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu pembukaan, isi atau inti permasalahan, dan penutup.
-
-
-
-
-
Pembukaan
-
-
-
-
Pembukaan adalah bagian awal dari setiap pembicaraan. Pembukaan termasuk bagian penting karena turut menentukan sukses tidaknya suatu pembicaraan. Bila pembukaan sudah berhasil menggugah minat dengar orang, maka kesuksesan pembicaraan sudah 50 % ada ditangan si pembicara. Sebaliknya, bila pembukaannya saja sudah membosankan, maka kegagalan penyampaian pesan dapat dikatakan sudah 90%, karena yakinlah bahwa pembicara akan diabaikan atau tidak akan diperhatikan oleh pendengar.
Pembukaan seyogyanya dilakukan paling lama lima menit. Dan diharapkan waktu lima menit tersebut dapat memberikan kesan yang menyenangkan dan menarik minat bagi para pendengar sehinga para pendengar bersedia menyimak pembicaraan selanjutnya dengan seksama.
Pada acara formal, misalnya pidato, isi “Pembukaan” biasanya terdiri dari salam kepada orang/pejabat atau tokoh setempat yang hadir, ucapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan ulasan sekilas tentang masalah yang akan dibicarakan.
Pembukaan sebaiknya memuat common interest dari pendengar. Misalnya berbicara tentang hal-hal aktual yang sedang terjadi yang menjadi bahan pembicaraan yang hangat di masyarakat, walaupun mungkin tidak ada kaitannya dengan yang akan dibicarakan. Bisa juga disisipkan beberapa lelucon/anekdot segar yang dapat menggugah perhatian dan simpati orang. Alangkah baiknya apabila lelucon atau “penyegar” tersebut secara tidak langsung dapat disambungkan dengan inti masalah.
Bila kata pembukaan berhasil, perhatian pendengar secara halus dapat ditarik ke inti permasalahan. Pembukaan pada setiap kesempatan pembicaraan sangat berbeda, tergantung pada misi, sifat, lawan bicara, dan suasana pembicaraan.
-
Misi Pembicaraan
Pembukaan dipengaruhi oleh misi pembicaraan. Yang dimaksudkan dengan misi pembicaraan di sini adalah tujuan pertemuan atau pembicaraan dan tugas yang dibebankan kepada si pembicara untuk disampaikan kepada hadirin
-
Sifat Pembicaraan
Pembukaan dipengaruhi oleh sifat pembicaraan, apakah serius, resmi, atau tidak sama sekali. Pembukaan di depan forum resmi, misalnya pertemuan atau rapat dinas yang dihadiri oleh pejabat kantor bersangkutan dan para pejabat pemerintah, sifatnya sangat formal yang biasanya akan mengikuti tatanan yang sudah baku dalam acara resmi. Dalam hal ini, pembukaan harus benar-benar mencerminkan keseriusan dari acaranya. “Pembukaan” pembicaraan atau pidato dapat disisipi “penyegaran” dengan sedikit humor, dan bisa dilakukan dengan santai tapi dengan tidak menghilangkan keseriusan acara.
-
Lawan Bicara
Lawan bicara turut menentukan “pembukaan” pembicaraan. Lawan bicara atau pendengar bisa dikategorikan dalam dua bahagian, yaitu kelompok atau perseorangan. Pembicaraan dengan perseorangan (seseorang), pembukaannya biasanya lebih diwarnai dengan gaya yang sifatnya kekeluargaan, apalagi kalau keduanya sudah akrab. Namun apabila pembicara dengan lawan bicara belum akrab benar maka pembukaan disampaikan seperlunya hingga dirasa suasana sudah “hangat”, kemudian kita dapat masuk ke masalah inti yang akan disampaikan.
Berbeda jika pembicaraan dilakukan dihadapan banyak orang maka harus diperhatikan siapa siapa yang menjadi lawan bicara, pembukaannya harus ditujukan kepada semua hadirin.
Disamping itu, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: usia, status sosial, bahasa dari lawan bicara, karena ini berkaitan dengan adat kesopanan yang juga akan sangat menentukan minat dengar dari lawan bicara.
-
Suasana
Suasana juga ikut menentukan bagaimana pembukaan suatu pembicaraan. Baik isi maupun pola tutur bahasa bahkan nada bicara yang digunakan adalah sangat erat hubungannya dengan suasana yang berlangsung atau yang dihadapi oleh pembicara. Karenanya pembicara harus memahami betul suasana yang dihadapinya untuk memulai atau membuka suatu pembicaraan, apakah gembira, sedih, santai atau suasana yang lainnya. Pembukaan pembicaraan atau sambutan dan sejenisnya, pada suatu acara pemakaman jangan sampai disamakan seperti pada pembukaan acara ulang tahun, atau sebaliknya.
-
-
-
-
-
Isi/Inti Pembicaraan
-
-
-
-
Inti pembicaraan merupakan bagian paling pokok dalam pembicaraan. Bagian ini merupakan tujuan dari pembicaraan. Dalam bagian inilah rincian permasalahan akan dibahas.
Dalam acara-acara tertentu, misalnya diskusi, seminar, sarasehan, biasanya penyampaian inti permasalahan tidaklah perlu terlalu mendetail, melainkan hanya pada butir-butir pokoknya sajalah yang disampaikan. Penyampaian yang mendetail biasanya disampaikan dalam forum tanya jawab.
Isi pembicaraan harus dapat disampaikan secara lengkap dengan sistematis dan tidak berkepanjangan atau bertele-tele. Pembicara harus konsisten dengan inti permasalahan. Pembicaraan tidak boleh merambat ke hal-hal di luar permasalahan yang dibicarakan, terkecuali jika hal itu diambil sekedar sebagai referensi atau sebagai loncatan berfikir (itupun harus dibatasi dan dijaga jangan sampai berkembang lebih jauh). Untuk lebih memfokuskan perhatian pendengar dapat dibantu dengan presentasi yang menggunakan alat audio, visual atau audio visual.
Sesekali sisipkan anekdot atau guyonan penyegar suasana. Dan selanjutnya libatkan hadirin dalam permasalahan yang disampaikan, misalnya dengan melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan inti permasalahan. Cara seperti ini hampir selalu dapat mengikat perhatian pendengar sepanjang pembicaraan.
Perlu diperhatikan bahwa, sebaiknya lama pembicaraan tidak lebih dari satu jam per sesi. Pembahasan inti permasalahan dapat dilanjutkan lagi dalam forum tanya jawab. Setelah semua inti materi disampaikan, tiba saatnya untuk menutup pembicaraan.
-
-
-
-
-
Penutup
-
-
-
-
Pada akhir pembicaraan hendaknya diusahakan adanya kata-kata penutup yang dibuat sesingkat mungkin, paling lama tiga sampai lima menit. Dalam penutup dapat disampaikan kesimpulan atau rangkuman penting sebagai hasil pembicaraan itu.
Penutup biasanya diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada hadirin atas perhatian yang diberikan dan kepada penyelenggara apabila berbicara pada suatu acara resmi. Dan terakhir sekali adalah ucapkan salam sebagai penutup pembicaraan.
DAFTAR PUSTAKA
-
HUDORO SUMETO : Cara Berbicara dan Presentasi dengan Audio Visual, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004.
-
ARMAN AGUNG : Laporan Program Pembelajaran Pendidikan Kader (Materi Rethorika) di Kampus IKIP Gunungsari Baru Ujung Pandang, Ujung Pandang1989.
KONSEP IPTEK dan MASYARAKAT.
KONSEP IPTEK dan MASYARAKAT
Ilmu dikelompokkan menjadi dua yaitu ilmu eksak dan non eksak.
Prinsip yang membedakan antara ilmu dan pengetahuan adalah lmu memilki ciri-ciri sebagai berikut:
-
disusun secara sistematik.
-
ada obek kajiannya.
-
ada ruang lingkupnya kajiannya
-
menggunakan suatu metode tertentu
Konsep Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
dalam pengetahuan ciri-ciri tersebut tidak ada ilmu pengetahuan merupakan kumpulan fakta-fakta dan aturan-aturan yang ada hubunganya antara yang satu dengan yang lainnya. Penerapan pengetahuan dan ilmu pengetahuan membuahkan kemampuan yang disebut teknologi.
Tjakraatmadja (1997) mengemukakan lima sifat pokok eknologi yang perlu dipahami, antara lain:
-
ilmu pengetahuan dan praktik/ percobaan merupakan prasyarat ntuk tumbuh dan berkembangnya teknologi.
-
teknologi dapat berupa kompetensi yang melrkat pada diri manusia, dapat berwujud fisik yang melekat pada mesindan peralatan maupun informasiyang diwadahi oleh sistem dan organisasai.
-
teknologi tidak memberikan nilai guna jika tidak diterapkan atau tidak terbagi dan tidak terpakai secara tepat guna.
-
sebagai salah satu aset perusahaan, teknologi dapat ditemukan, dikembangkan, atau bahkan tidak bernilai guna jika teknologi yang dumiliki sudah kedaluwarsa.
-
pada umumnya teknologi digunakan untuk mensejahterakan masyarakat.
Perubahan teknologi
Menurut frankel (1990), menyatakan bahwa secara umum perubahan teknlogi merupakan hasil alokasisumber daa kepada sebua aktivitasyang dapat menyebabkan terjadinya perubahan teknologi.
Menurut Lewis Henri Morgan sebagaimana dikemukakan oleh Wanataputera (2003: 5:23-5.24)sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia maka teknologi juga mengalami perubahan, yaitu:
-
zaman liar bawah.
-
zaman liar tengah.
-
zaman liar atas.
-
zaman beradab bawah.
-
zaman beradab tengah.
-
zaman beradab atas,
-
zaman peradaban.
Alvin Toffler (dalam Nursid Sumaatmadja. 2001), mengemukakan tiga tahap perkembangan teknologi, yaitu :
-
revousi hijau.
-
revolusi industri.
-
revolusi informasi..
Peranan Iptek Terhadap Masyarakat.
Perkembangan teknologi tidak lepas dari kehidupan manusia. Teknologi mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia,lebih jelasnya anda dapat mengikuti uraian berikut,
-
interaksi masyarakat dengan teknologi, hubungan masyarakat dengan teknologi itu sangat komplek.
-
otonomi yang diduga dimiliki teknologi. Teknologi adalah setudi sistematik mengenai teknik-teknikuntuk membuat dan melakukan berbagai hal membuat teknologi sebagai suatu fenomena sosial.
-
hubungan teknologi dengan pendidikan,
ada tiga macam teknologi yang harus dibina dan dikembangkan, antara lain:
-
teknologi maju.
-
teknologi adaptif
-
teknologi protetif.
Iptek dan Daya Kemampuan Masyarakat
Perkembangan iptek sering kali juga menimbulkan dampak dalam proses perubahan masyarakat, misalnya dengan masuknya pengaruh asing yang berupa teknologi. Masuknya teknologi dalam masyarakat ternyata tidak hanya dapat mengubah kondisi kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat mengubah cara hidup manusia dalam masyarakat tersebut.
Pengaruh Perkembangan Iptek Terhadap Kehidupan Masyarakat
-
Pengembangan Iptek untuk Mewujudkan Masyarakat Maju dan Mandiri.
Menurut Rahadi Ramelan(2007:27), dipandang dari sudut budaya, perkembangan iptek suatu masyarakat dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan faktor-faktor sebagai berikut:
-
-
Konstelasi nilai-nilai dalam masyarakat atau bangsa dan komitmen masyarakat secara keseluruhan yang menyalurkan motifasi untuk mendukung, meyakini, dan menerapkan iptek dalam berbagai tingkatan maupun jenis penggunaannya
-
Kemampuan sistem iptek nasional dalam menghasilkan dan memasarkan hasil-hasilpenelitiannya serta mendorong penerapannya secara efisien dan efektif
-
Setruktur lembaga-lembaga yang bergerak di bidang iptek yang menjembatani proses kreatif dan inofatif bagi para penelitinya.
-
-
Memasyarakatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Gelombang kemajuan iptek di berbagai bidang seperti transportasi, komunikasi, dan informasi dan energi telah membawa banyak perubahan pada kehidupan dan gaya hidup manusia yang lebih dinamis.
Tidak dapat disangkal lagi jika pada era ini, segala aktifitas yang dilakukan masyarakat moderen sangat tergantung pada ketersediaan energi.
-
Masalah-masalah Perkembangan Iptek.
Sejalan dengan perkembangan iptek yang sangat cepat, juga dihadapkan pada banyak masalah. Masalah tersebut antara lain:
-
-
Kebijakan yang sesuai dengan perkembangan iptek.
-
Perlu dipikirkan startegi yang tepat, baik dalam arti proses, hasil, maupun peran serta perilaku iptek, terutama para pneliti harus disediakan fasilitas yang memadai.
-
Sektor produksi, kegiatan produksi di Indonesia baru sampai pada pemanfaatan kemajuan teknologi yang terkandung dalam berbagai peralatan yang digunakan.
-
Ragam kegiatan penelitian dan pengembangannya.
-
Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan pokok-pokok kebijakan:
-
Mengembangkan nilai iptek dan membentuk budaya iptek di masyarakat.
-
Mendorong kemitraan riset.
-
Mempercepat uapya manufaktur progresif.
-
Meningkatkan mutu produkdan proses produksi, produktifitas dan efisiensidan inofasi dalam penguasaan iptek.
-
Meningkatkan kwalitas, kwantitas, dan komposisi sumber daya manusia ipek.
-
Mengembangkan penataan dan pengolahan kelembagaan iptek.
-
Pengaruh perkembangan iptek terhadap kehidupan masyarakat.
Bentuk-bentuk teknologi informasi dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.:
-
Bidang telekomunikasi,
-
Kita dapat menikmati hiburan di radio dan televisi,
-
Tersedia medi perekam dalam bentuk CD,
-
Kehadiran internet di masyarakat.
-
Dengan jasa komputer, pekerjaan menjadi mudah.
-
Alih teknologi.
Salah satu syarat terjadinya kemajuan teknologi atau alih teknologidalam negara berkembang adalah terjadinya pertumbuhan ekonomiyang cukup tinggi
-
Proses alih teknologi.
Pemindahan teknlogi dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
-
Transfer material,
-
Transfer desain
-
Transfer kemampuan,
Pada tingkat nasional terdapat empat macam konsep alih teknologi,
-
Alih teknologi secara geografis,
-
Ali teknlogi kepada tenaga kerja lokal
-
Transmisi dan difusi teknologi
-
Pengembangan dan adaptasi teknologi
Hambatan ali teknologi
-
Hambatan yang timbul dari ketidaksempurnaan pasar teknologi.
-
Hambatan yang disebabkan oleh kurangnya pengalaaman dan dan keterampilan bangsa indonesia,
-
Hambatan dari sikap pemerintah
-
Hambatan sumber keuangan
ada tiga hal yang perlu dianalisis dalam mencermati luas dan sifat alih teknologi
-
Sampai berapa jauhkah investasi asing dan bentuk kerja sama lain.
-
Seberapa besarkah spin off tecnologi(yang bisa disebut dengan kebocoran dan keterkaitan ) terhadap faktor produksi di Indonesia,
-
Kelompok manakah di negara penerima yang merupakan kelompok penerima manfaat utama.
-
Problema alih teknologi
Mengingat modal asing dengan teknologi itu dibawa ke Indonesia dan dialihkan kepada pihak Indonesia, maka proses alih teknologi menjadiproblema yang cukup gawat, yaitu:
-
Jenis teknologi yang dialihkan
-
Penilaian atas teknologi.
-
Cara alih teknologi,
-
Harga teknologinya.
-
Syarat-syarat yang menyertai alih teknologi
-
Penanaman dalam suatu perjanjian.
Pembelajaran Matematika Relistik Indonesia (PMRI)
PMR: Menjadikan Pelajaran Matematika Lebih Bermakna Bagi Siswa* <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } H1 { margin-top: 0in; margin-bottom: 0in } H1.western { font-family: “Arial”, sans-serif; font-size: 12pt } H1.cjk { font-family: “Lucida Sans Unicode”; font-size: 12pt } H1.ctl { font-family: “Arial”, sans-serif; font-size: 12pt } P.sdfootnote { margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in; font-size: 10pt; text-align: left } H2 { margin-top: 0in; margin-bottom: 0in } H2.western { font-family: “Arial”, sans-serif; font-size: 9pt } H2.cjk { font-family: “Lucida Sans Unicode”; font-size: 9pt } H2.ctl { font-family: “Arial”, sans-serif; font-size: 12pt } P { margin-bottom: 0in; text-align: justify } P.western { font-family: “Arial”, sans-serif; font-size: 9pt; so-language: id-ID } P.cjk { font-size: 9pt } P.ctl { font-family: “Arial”, sans-serif } H3 { margin-top: 0in; margin-bottom: 0in; text-align: justify } H3.western { font-family: “Arial”, sans-serif; font-size: 9pt; so-language: id-ID } H3.cjk { font-family: “Lucida Sans Unicode”; font-size: 9pt } H3.ctl { font-family: “Arial”, sans-serif; font-size: 12pt } A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } –>
PMR: Menjadikan Pelajaran Matematika Lebih Bermakna Bagi Siswa*
Sutarto Hadi**
FKIP, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin
E-mail: sutarto_hadi@yahoo.com
Pendahuluan
Pendidikan Matematika Realistik (PMR) dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Berdasarkan pemikiran tersebut, PMR mempunyai ciri antara lain, bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru (Gravemeijer, 1994), dan bahwa penemuan kembali (reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan “dunia riil” (de Lange, 1995).
Dunia riil adalah segala sesuatu di luar matematika. Ia bisa berupa mata pelajaran lain selain matematika, atau bidang ilmu yang berbeda dengan matematika, ataupun kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar kita (Blum & Niss, 1989). Dunia riil diperlukan untuk mengembangkan situasi kontekstual dalam menyusun materi kurikulum. Materi kurikulum yang berisi rangkaian soal-soal kontekstual akan membantu proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Dalam PMR, proses belajar mempunyai peranan penting. Rute belajar (learning route) di mana siswa mampu menemukan sendiri konsep dan ide matematika, harus dipetakan (Gravemeijer, 1997). Sebagai konsekuensinya, guru harus mampu mengembangkan pengajaran yang interaktif dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan kontribusi terhadap proses belajar mereka.
Pada saat ini, PMR mendapat perhatian dari berbagai pihak, seperti guru dan siswa, orangtua, dosen LPTK (teacher educators), dan pemerintah. Beberapa sekolah dasar di Yogyakarta, Bandung dan Surabaya telah melakukan ujicoba dan implementasi PMR dalam skala terbatas. Sebelum PMR diimplementasikan secara luas di Indonesia, perlu pemahaman yang memadai tentang teori ‘baru’ tersebut. Seringkali kegagalan dalam inovasi pendidikan bukan disebabkan karena inovasi itu jelek, tapi karena kita tidak memahaminya secara benar. Makalah ini akan menguraikan secara garis besar tentang sejarah PMR, mengapa kita perlu mengembangkan PMR di Indonesia, konsepsi tentang siswa, peran guru, konsepsi tentang pengajaran, dan ditutup dengan harapan terhadap implementasi PMR di Indonesia.
S
Prof. Dr. Hans Freudenthal
ejarah PMR
PMR tidak dapat dipisahkan dari Institut Freudenthal. Institut ini didirikan pada tahun 1971, berada di bawah Utrecht University, Belanda. Nama institut diambil dari nama pendirinya, yaitu Profesor Hans Freudenthal (1905 – 1990), seorang penulis, pendidik, dan matematikawan berkebangsaan Jerman/Belanda.
Sejak tahun 1971, Institut Freudenthal mengembangkan suatu pendekatan teoritis terhadap pembelajaran matematika yang dikenal dengan RME (Realistic Mathematics Education). RME menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana matematika harus diajarkan. Freudenthal berkeyakinan bahwa siswa tidak boleh dipandang sebagai passive receivers of ready-made mathematics (penerima pasif matematika yang sudah jadi). Menurutnya pendidikan harus mengarahkan siswa kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan untuk menemukan kembali matematika dengan cara mereka sendiri. Banyak soal yang dapat diangkat dari berbagai situasi (konteks), yang dirasakan bermakna sehingga menjadi sumber belajar. Konsep matematika muncul dari proses matematisasi, yaitu dimulai dari penyelesaian yang berkait dengan konteks (context-link solution), siswa secara perlahan mengembangkan
alat dan pemahaman matematik ke tingkat yang lebih formal. Model model yang muncul dari aktivitas matematik siswa dapat mendorong terjadinya interaksi di kelas, sehingga mengarah pada level berpikir matematik yang lebih tinggi.
Mengapa kita perlu mengembangkan PMR?
Orientasi pendidikan kita mempunyai ciri (Zamroni, 2000):
-
cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai obyek;
-
guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner;
-
materi bersifat subject-oriented; dan
-
manajemen bersifat sentralistis.
Orientasi pendidikan yang demikian menyebabkan praktik pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan riil yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian (Zamroni, 2000).
Paradigma baru pendidikan menekankan bahwa proses pendidikan formal sistem persekolahan harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Zamroni, 2000):
-
Pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching);
-
Pendidikan diorganisir dalam suatu struktur yang fleksibel;
-
Pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri; dan
-
Pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.
Teori PMR sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti konstruktivisme dan pembelajaran kontekstual (cotextual teaching and learning, disingkat CTL) . Namun, baik pendekatan konstruktivis maupun CTL mewakili teori belajar secara umum, PMR adalah suatu teori pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika.
Konsep PMR sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika di Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar. Salah satu pertimbangan mengapa Kurikulum 1994 direvisi adalah banyaknya kritik yang mengatakan bahwa materi pelajaran matematika tidak relevan dan tidak bermakna (Kurikulum 1994 Akhirnya Disempurnakan, 1999).
Konsepsi tentang Siswa
PMR mempunyai konsepsi tentang siswa sebagai berikut:
-
Siswa memiliki seperangkat konsep laternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya;
-
Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri;
-
Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi,penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan;
-
Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman;
-
Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik.
Peran Guru
PMR mempunyai konsepsi tentang guru sebagai berikut:
-
Guru hanya sebagai fasilitator belajar;
-
Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif;
-
Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil; dan
-
Guru tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia-riil, baik fisik maupun sosial.
Konsepsi tentang Pengajaran
Pengajaran matematika dengan pendekatan PMR meliputi aspek-aspek berikut (De Lange, 1995):
-
Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna;
-
Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut;
-
Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan;
-
Pengajaran berlangsung secara interaktif: siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain; dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.
Harapan
Dengan penerapan PMR di Indonesia diharapkan prestasi akademik siswa meningkat, baik dalam mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran lainnya.
Sejalan dengan paradigma baru pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Zamroni, (2000), pada aspek prilaku diharapkan siswa mempunyai ciri-ciri:
-
di kelas mereka aktif dalam diskusi, mengajukan pertanyaan dan gagasan, serta aktif dalam mencari bahan-bahan pelajaran yang mendukung apa yang tengah dipelajari;
-
mampu bekerja sama dengan membuat kelompok-kelompok belajar;
-
bersifat demokratis, yakni berani menyampaikan gagasan, mempertahankan gagasan dan sekaligus berani pula menerima gagasan orang lain;
-
memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
* Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika “Perubahan Paradigma dari Paradigma Mengajar ke Paradigma Belajar,” di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 27 – 28 Maret 2003.
** Penulis adalah alumni FKIP Unlam dan Pascasarjana UGM, memperoleh gelar master dan doktor dari University of Twente, Belanda.
Sejarah Perkembangan Ilmu
Filsafat ilmu <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Van Peursen ( 1993 : 18 ) membagi perkembangan budaya menjadi 3 tahap:
-
Tahap Mistis ( Zaman Yunani kuno )
Dalam tahap ini, manusia merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan gaib. Dalam tahap mistis, apa yang disebut kebenaran atau kenyataan adalah sesuatu yang “ given “ mistis, dan tidak perlu dipertanyakan. Pengetahuan mistis adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami oleh rasio (supra rasional ) tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris. Contohnya adalah : ma`rifah, idtihad, hulul, kekebalan.
Pengetahuan Mistis dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
-
Mistis Biasa
Mistis biasa adalah tanpa kekuatan tertentu, contohnya adalah tasawuf.
-
Mistis Magis
Mistis Magis adalah mistik yang mengandung kekuatan tertentu.
Dalam mistis magis sendiri dibedakan kembali menjadi 2 macam, yaitu :
-
Mistik Magis Putih
Contohnya adalah : mu`jizat, karomah alam, hikmah. Mistik magis putih berasal dari agama langit (Nasrani, Yahudi, Islam ) biasanya mistik magis putih menggunakan wirid, doa, petunjuknya berupa wafaq. Mistik magis putih selalu dekat dengan Tuhan sehingga dukungan Ilahi sangat menentukan seperti mu`jizat: contoh Nabi karomah; contoh non Nabi
-
Mistik Magis Hitam
Mistik magis hitam berasal dari luar Agama dan biasanya menggunakan mantra-mantra, jampi-jampi yang bentuknya berupa rajah dan jimat. Mistik magis hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada kekuatan sehat dan roh jahat seperti kemampuan melihat hal-hal gaib.
Contohnya :
-
-
Sihir ( kekuatan mental/ himnah )
-
Rajah ( kekuatan benda/ elemen didalamnya )
-
Sulap ( kekuatan imajinasi )
-
-
Tahap Ontologis
Manusia tidak merasakan dirinya terkepung kekuatan gaib dan mengambil jarak dari objek di sekitarnya serta melakukan penelaahan. Tahap ontologis ini lebih mendambakan kebenaran substansial. Ontologis sebagai salah satu cabang filsafat membahas apa hakikat (being qua being) ideliasme, materialisme, dualisme, plucoralisme merupakan faham dalam filsafat antologis. Dalam tahap ini, manusia lebih mendambakan kebenaran substansial. Ontologis sebagai salah satu cabang filsafat membahas apa hakikat (being qua being). Iidealisme atau spiritualisme, materialisme, dualisme, pluralisme, merupakan faham dalamfilsafat ontologis. Masalah kenyataan (reality) secara ontologis, menurut faham pragmatisme diartikan sebagai suatu proses yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Didalamnya pihak-pihak yangm mengetahui dikatakan membuat hari depan mereka menjadi kebenaran.
-
Tahap Fungsional
Terbebas dari kekuatan gaib dan mempunyai pengetahuan berdasarkan penelaahan serta memfungsionalkan pengetahuan berdasarkan kepentingan dirinya. Dalam tahap fungsional kebenaran diletakkan pada fungsi atau kemanfaatannya. Van Peursen menyatakan bahwa umat masa kini sedang berupaya melepaskan diri dari bahasa operasionalisme yang timbul dalam tahap fungsional ini. Namun tahap apa dan bagaimana wujudnya, ia sendiri belumdapat menyatakan.
Untuk memahami sejarah perkembangan ilmu, perlu dilakukan periodisasi. Berikut ini adalah salah satu periodisasi perkembangan ilmu.
-
Zaman Purba ( abad 15-7 SM )
-
Perkembangan pengetahuan di Mesir dan Babylonia.
-
Babilonia
-
-
3000 SM didaerah Mesopotamia, masyarakat menggunakan binatang ada bajak untuk membajak, perahu, dan kendaraan, dapat mengolah perunggu untuk alat-alat sehari-hari.
2500 SM bangsa Sumer ( Mesopotamia ) telah mengenal matematika, (memiliki kemampuan berhitung, menulis lambang bilangan, perkalian bilangan).
2000 SM bangsa Sumer ditaklukan oleh dinasti Hamurabbi, kerajaan Babylonia, pada zaman ini banyak sekolah didirikan, matematika makin berkembang, geometri, pengukuran panjang dan berat.
Masyarakat Babylonia telah menganal waktu, buktinya:
-
Pergantian musim yang dikaitkan dengan waktu untuk bercocok tanam.
-
Membagi waktu dalam satuan hari.
-
Pengamatan terhadap bentuk bulan.
-
Mampu membagi hari dalam jam serta menyatakan bahwa 1 tahun = 365 hari (2000 SM)
-
Bidang Kedokteran
Tahun 2350 telah dikenal Dokter di Babylonia tetapi masih berkaitan dengan roh-roh jahat sebagai penyebab penyakit.
-
Bidang Ekonomi
-
-
Mengenal perdangan
-
Pinjam meminjam uang ( telah mengenal uang )
-
Pekerjaan makin teridrntifikasi ( bisa dibedakan )
-
-
-
-
Mesir
-
-
Secara umum Mesir pada zaman purba sudah lebih maju.
Bidang Transportasi
-
Menemukan kereta beroda dan perahu layar.
-
Menemukan alat ukur berat ( timbangan )
-
Pembuatan tekstil dengan alat tenun.
Bidang Kedokteran
-
Ditemukan tulisan tentang cara pengobatan orang sakit
-
Mengenal denyut nadi, mekanisme pernafasan, daftar penyakit, dan resep-
resep
-
Mulai menggunakan bahan kimia disamping resep-resp herbal
-
Mengenal ilmu bedah
-
Untuk penyakit jiwa pengobatannya diserahkan pada ahli pengusir roh jahat
-
Bidang pengolahan logam
-
Mengenal cara pemurnian emas, bijih besi ( 3000 SM )
-
Mengenal peruggu, besi, timbale ( 2500 )
-
Mengenal raksa ( 1500 )
Bidang keilmuan
-
Menerima semua peristiwa sebagai fakta ( Common Denominator ) adalah fakta sekedarnya untuk menemukan soal yang sama.
-
Penemuan diwariskan pada generasi berikutnya lewat “ know and how “. Pengetahuan pada zaman purba ditandai dengan 5 kemampuan:
-
Pengetahuan didasarkan pada pengalaman ( empirical knowledge ).
-
Pengetahuan berdasarkan pada pengalaman itu diterima sebagai fakta dengan sikap receptive mind.
-
Kemampuan menemukan abjad dan system bilangan alam sudah menampakan perkembanganpemikiran manusia
-
Kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender, yang didasarkan atas sintesa terhadap hasil observasi yang dilakukan
-
Kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis atas dasar peritiwa-peritiwa sebelumnya yang pernah terjadi.
Bidang lainnya
-
Menganal cara pembuatan gelasdan keramik
-
Mengenal zat warna pada tekstil
-
-
Perkembangan pengetahuan di India
-
Agama Budha merupakan faktor penunjang perkembangan pengetahuan da India sebab Agama Budha didasarkan pada cinta kasih dan pengetahuan. Pengetahuan yang dikenal dilembah sumgai Indus adalah Astronomi matematika dan kedokteran.
Dalam bidang Astronomi
Para pengamat benda-benda angkasa telah mengamati posisi matahari, bulan dan bintang dalam bilangan, berhitung dan menggunakan angka nol sampai sembilan.
Dalam ilmu kedokteran
Dikembangkan tulisan mengenal cara pengobatan yang bebas dari pengaruh mistik, tumbuh-tumbuhan digunakan untuk pengobatan juga dikenal pembedahan.
-
-
Perkembangan pengetahuan Cina
-
Perkembangan Cina diketahui dengan penemuan Arkeologi pada masa dinasti Shang (1523-1028 SM) dan dinasti Chon (1027-256 SM). Pada masa itu orang telah mengenal tulisan, pembuatan keramik, kendaraan beroda, cara bertanam padi, pembuatan sutra alam, dan pembuatan alat-alat dari perunggu dan besi.
Dalam bidang Kedokteran
Telah mengenal bentuk pengobatan dengan mengunakan tusuk jarum (akupuntur). Pada tahun 1200 SM terdapat tulisan tentang asal mula benda yaitu dari YIN (membaw ciri buruk) dan YANG (membawa ciri baik)
Secara umum, pengetahuan pada zaman purba ditandai dengan 5 kemampuan:
-
Pengetahuan didasarkan pada pengalaman ( empirical knowledge )
-
Pengetahuan berdasarkan pada pengalaman itu diterima sebagai fakta dengan sikap receptive mind.
-
Kemampuan menemukan abjad dan system bilangan alam sudah menampakan perkembanganpemikiran manusia
-
Kemampuan menulis, berhitung, menyusun kalender, yang didasarkan atas sintesa terhadap hasil observasi yang dilakukan
-
Kemampuan meramalkan peristiwa-peristiwa fisis atas dasar peritiwa-peritiwa sebelumnya yang pernah terjadi.
-
Zaman Yunani (abad 7 SM – 6 M)
Zaman Yunani dipandang sebagai masa kelahiran pemikiran kritis reflektif manusia. Pada hakekatnya kelahiran cara berfikir kritis Yunani merupakan suatu revolusi yang basar.
Dengan revolusi itu, manusia mulai melihat bahwa dunia dan gejala-gejala hidup didalamnya merupakan kenyataan-kenyataan yang objektif yang dapat diamati dan dipelajari secara sistemati,
Awal pergumulan akal dengan mitos terjadi kira-kira abad ke-6 SM.
Misalnya : menurut mitos pelangi/ bianglala adalah seorang dewa atau dewi / mitos di Jawa pelangi adalah tempat para bidadari turun dari surga. Tetapi menurut akal / pemikiran Xenophanes pelangi adalah awan, sedang menurut pendapat Anaxagoras pelangi adalah pemantulan matahari pada awan.
Pada zaman ini banyak nama ahli filsafat yang mengembangkan hasil pemikirannya tentang perubahan-perubahan yang terjadi. Arti dari ”filsafat”pun lebih luas yaitu meliputi semua pengetahuan manusia, antara lain yang kita kenal sekarang sebagai ilmu pasti, ilmu fisika, ilmu sosial, ilmu hukum,dsb.
Oleh karena itu filsafat dinyatakan sebagai induk pengetahuan (mater scientiarum).
Dibawah ini meupakan nama-nama pemikir beserta pngembangan hasil pemikirannya:
-
Thales dari Milatos (+ 624 – 548 SM)
Dianggap sebagai orang pertama yang mempertanyakan dasar dari alam dan isi alam ini.
-
Anaximander atau Anaximandros (610 – 540 SM)
Mempunyai jasa-jasa dalam bidang astronomi dan geografi, sebab dia adalah orang yunani pertama yang membuat peta daerah-daerah di dunia yang telah ia ketahui.
-
Anaximenes (550 – 475 SM) dari Milatos
Berpendapat bahwa unsur pertama benda ialah udara.
-
Pythagoras (580-500 SM)
Dikenal sebagai filsuf, ahli ilmu ukur dan penemuan dalam bidang musik ia berpendapat bahwa seluruh kenyataan di dunia dari bilangan-bilangan atau angka – angka dan mewujudkan suatu keselarasan yang harmonis, yang memperdamaikan hal-hal yang saling berlawanan.
-
Leucippos (+ 440 SM) dan Democritos (+ 460 – 370 SM)
Berpendapat tentang benda-benda dialam semesta terdiri atas bagian-bagian kecil yang dapat di bagi-bagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil yang disebut atom.
-
Sokrates (470-399 SM)
Metode yang dikembangkannya berupa metode dialektika, yang menunjukkan rangkaian thesis-antithesis-synthetis.
-
Plato (427-347 SM)
Menunjukkan bahwa yang serba berubah dinamakanpengamatan, sedangkan yang tidak berubah dikenal sebagai ide atau akal.
-
Hippociates (460-377 SM)
Mendapat sebutan sebagai ”bapak kedokteran” tulisannya meliputi banyak bidang antara lain tentang kedokteran klinis,demam akut,penyakit paru-paru,cara pembedahan dll.
-
Aristoteles (384 – 322 SM)
Merupakan ahli filsafat Yunani yang sangat terkenal karena mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang (logika,metafisika dan biologis).
-
Euclid (365-300 SM)
Seorang ahli matematika yang menemukan tentang bidang geometri.
-
Apollomeus (265-190 SM)
Seorang ahli geometri (tentang potongan suatu kerucut) dan ahli matematika.
-
Archimedes (287-212 SM)
Seorang ahli matematika,fisika dan penemu. Contoh penemuannya: alat-alat yang berguna bagi kehidupan masyarakat (alat yang berbentuk ulir/sekrup, alat pengungkit, pelempar peluru)
-
Aristarchus (310-230 SM)
Seorang ahli astronomi (menyatakan bahwa bumi itu bulat,berputar sendiri dan bergerak mengelilingi matahari atau heliosentris)
-
Hipparchus (194-120 SM)
Seorang ahli astronomi dan matematika yang berpendapat bahwa bumi adalah pusat segalanya.
-
Claudius Ptolomeus (127-151 SM)
Menuliskan hasil karya berupa ensiklopedi astronomi dan peta bumi pada masa pemerintahanya 2 orang yang memberi sumbangan di bidang kedokteran yaitu Herophilus (kedokteran ahli anatomi manusia) dan erasistratus (bidang fisiologi dan melakukan pembedahan)
-
Zaman Pertengahan (Abad 6-15 M)
Zaman pertengahan merupakan merupakan suatu periode panjang yang dimulai dari jatuhny kekaisaran Romawi Barat tahun 476 M. Yang ada hubungannya dengan sejarah bangsa-bangsa di Benua Eropa.
Zaman pertengahan (Middle Age) ditandai dengan pengaruh Agama Katolik yang cukup besar terhadap kebudayaan saat itu. Para ilmuan pada masa ini hampir semua adalah para teolog dengan semboyan yang berlaku pada masa itu adalah anailla theologiae (abdi agama) kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama.
Penemuan-penemuan menjelang berakhirnya abad tengah.
-
Bidang Pertanian
-
Penggunaan banyak : dapat mengurangi/ meringankan para petani.
-
Kincir air : digunakan untuk menggiling jagung
-
Bidang Perkapalan dan Narigasi Pelayaran
-
Kompas: menunjukkan arah mata angin
-
Keterampilan membuat tekstil dan pengolahan kulit
-
Mengenal alat pemintal kapas
-
Keterampilan membuatan kertas
-
Mengenal percetakan dan pembuatan bahan peledak
-
Pada masa yang sama di duni Islam mengalami masa keemasan ilmu pengetahuan dan teknologi
-
Pada zaman Bani Umayah menemukan suatu cara pengamatan astronomi
-
Melakukan penejemahan berbagai karya Yunani
-
Khalifah Al-Makmun
-
Mendirikan rumah kebijaksanaan (House of Wisdom)
-
Muhammad Ahmad Al-Khawarizmi (825 M)
-
Menyusun buku aljabar yang menjadi buku standar beberapa abad di Eropa
-
Menulis buku tentang perhitungan biasa (arithmaties)
-
Memperkenalkan persamaan pangkat dalam dua dalam aljabar
-
Omar Khayan (1043-1132 M)
-
Menemukan pemecahan persamaan pangkat tiga
-
Memenukan soal matematik yang belum terpecahkan sampai sekarang yaitu bil A3 + B3 = C3
-
Kemudian fermet (1601-800 M) => Xn + Yn = Zn
-
Jabir Ibnu Hayan (720-800)
-
Melakukaan eksperimen (kustalisai,melarutkan sublemasi + redaksi)
-
Menulis proses pembuatan baja,pemurnian logam memberi warna pada kain tahan air dan pembuatan zat warna untuk rambut
-
Menulis pembuatan tinta, pembuatan gelas, cara memekatkan asam cuka
-
Dalam bidang kedokteran
-
Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakariya al-Razi (Razes)
-
Menulis 100 buah buku tentang Kedokteran, 33 buah buku ilmu Pengetahuan Alam dan Al- Kimia, 11 buah buku Matematika dan Astronomi, 45 buku filsafat dan teologia
-
Sebuah astronomi kedokteran berjudul contins
-
Ibnu Sina (Avicena)
-
Menulis buku-buku kedokteran bernama al-Qanu
-
Abu’l Qosim (Abu’l Casis)
-
Menulis sebuah buku Ensiklopedi kedokteran, menelaah ilmu bedah
-
Ibnu Rushd (Averoes)
-
Menerjemahkan dan mengomentari karya Aristoteles
-
Al-Idrisi
-
Dalam bidang geografi telah membuat 70 peta dari daerah yang dikenal dari masa itu
-
Ibnu Khaldun (Abu Zaid Abdan – Rahman Ibnu Muhammad Ibnu Khaldun al-Hadrami)
-
Menulis sebuah buku berjudul al-Muqoddimmah, membahas tentang perkembangan Masyarakat.
Pada zaman keemasan ilmu pengetahuan Bangsa Arab menjadi pemimpin dalam berbagai bidang ilmu
-
Zaman Renaissance (14 – 17 Masehi)
Secara historis Renaissance adalah suatau gerakan yang meliputi suatu zaman ketika orang merasa telah dilahirkan kembali dalam keadaban / kebebasan segala kebangkitan pada zaman ini adalah mulai bangkitnya berkembangnya ilmu pengetahuan yang di tandai oleh timbulnya pemikiran dari tokoh-tokoh yang terkenal pada masa itu seperti; Galileo Galelei, Francis Bacon, Nicolas Copernicus, Tycho Brahe, Johanes Kepler.
Menurut Imam Santoso, perkembangan ilmu pada zaman ini pengaruhi oleh 3 sumber
-
Adanya hubungan antara kerajaan Islam di semenanjung Liberia dengan negara Prancis.
-
Perang salib yang terulang sebanyak 6 kali.
-
Para pendeta atau sarjana yang mengungsi ke Italia karena Istanbul jatuh ke tangan Turki mereka ini yang menjadi pionir – pionir bagi perkembangan ilmu di Eropa.
Selain ilmu pengetahuan pada zaman Renaissance berkembang juga ilmu negara tokoh-tokohnya seperti; Hugode Groot (1583 – 1645), Niccolo Marciavelli (1467 – 1525)
-
Zaman Modern (17 – 19 M)
Pada masa ini muncul pemikir – pemikir yang mendorong cara pendekatan nasionalisme dan empirisme, dalam paham rasionalisme sumber ilmu pengetahuan yang dapat diterima adalah rasio (akal), sedangkan paham empirisme berpendapat bahwa pengalaman (empiri) yang menjadi sumber pengetahuan.
Masa ini juga dimulai zaman mesin sujak tercetusnya revolusi industri di Inggris abad manusia mempunyai bidang produksi baru yaitu industri. Selanjutnya abad ke – 19 sampai pertengahan abad ke -20 terjadi susul menyusul berbagai penemuan – penemuan diberbagai bidang, yang disumbangkan oleh beberapa tokoh.
Dalam bidang ilmu pasti ( matematika) muncul descartes atau cartesius (1596 – 1650) yang menemukan sistem koordinat yang terdiri dari dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Dalam bidang filsafat Decretes juga mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi landasan berpikir modern, sehingga Decretes disebut Bapak Filsafat modern.
Thomas Hobber (1588 – 1679), memunculkan teori – teori tentang negara dan pemerintahan yang absolut.
Dalam bidang fisika, Isaac Newton (1643 – 1727) berhasil menampilkan penelitian dan penemuannya mengenai gaya tarik bumi (grafitasi), juga menerangkan bahwa planet – planet bergerak mengikuti lintasa elips, Newton juga berjasa dalam bidang optik. Perkembangan lain dalam ilmu pati adalah ditemukannya konsep tentang panas dan pengukurannnya, satuan panjang dan volume.
Dalam pengembangan fisika – nuklir, JJ. Thompson menemukan elektron, yang merupakan bagian atom perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern juga ditandai dengan adanya teori evolusi oleh Carles Darwin (1809 – 1882).
George Wilhelm berpikir bahwa yang pokok di dunia ini adalah ide, pikiran dan roh menurut comti perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 zaman, yaitu Teologis, Metafisis dan Positif/Ilmiah
-
Zaman Kontemporer (Abad 20-Sekarang)
Perkembangan ilmu pengetahuan pada saat ini berkembang sangat cepat. Penemuan terjadi sislih berganti dan makin sering. Informasi ilmiah diproduksi dengan cepat, melipat setiap 2 tahun, bahkan dengan disiplin-disiplintertentu seperti genetika setiap 2 tahun (Jacob, 1993:19)
Dalam bidang kedokteran, saat ini sudah dikenal dengan sebutan abad analisis, dimana analisis disini mengndung pengertian bahwa alam ini harus diselidiki, tidak seperti pada saat mazhab Hipokrates, mazhab yang melihat kedokteran secara holistis. Pada zaman kontemporer dunia kedokteran sudah mengenal ilmu rekayasa genetika, metode transplantasi, dan penemuan tehnik kloning.
Dalam bidang ilmu social, berbagai pendekatan di lakukan guna menajamkan analisa terhadap fenomena yang ditelitinya.
Dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam, dikenal memiliki percepatan yang sangat spektakuler. Mucul tokoh-tokoh seperti Albert Einstein, yang menyatakan bahwa materi bersifat kekal. Hal ini kemudian dibantah oleh ilmuan bernama Hubble. Ia bersebrangan pendapat dengan Einstein karena menurut Hubble, alam sebenarnya tidak statis, melainkan dinamis, jagat raya selalu berekspansi. Tokoh-tokoh lain dalam bidang ilmu alam lain diantaranya Garnow, Alpher, dan Herman. Mereka menarik kesimpulan bahwa semula jagat raya ini bersatu kemudian terjadilah ”big bang” yang menyebabkan seluruh materi terlempar kesegala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi, yang kemudian menjadi bintang dan galaksi. Selain itu beberapa tokoh pengetahuan alam lain adalah Stephen Hawking, Max Planck (struktur atom), Rutherford, Bohr, pauli, Schroedinger, Becquerrel (Radioaktifitas).
Dalam bidang media komunikasi, diawali dengan ditemukannya mesin cetak di eropa, kemudian televisi, dll. Yang membuat dunia terkesan semakin kerdil. Teknologi informasi yang semakin canggih, memungkinkan manusia menampilkan gambar, suara, dan cetakan sekaligus, dan dapat bersifat individual dan personal yang biasa kita kenal dengan multimedia.
Di zaman ini perkembangan ilmu pengetahuan ditandai juga dengan terjadinya spesialisasi ilmu yang samakin tajam. Seprti contoh, dalam ilmu kedokteran, semakin menajam dalam spesialisasi dan sub spesialisasinya.
Adanya teknologi internet memungkinkan terjadinya pertukaran informasi antar ilmuwan, maupun ilmuwan dengan orang awam. Hal ini menjadi faktor pendukung bagi percepatan perkembangan ilmu pengetahuan.
Bapa Gereja atau adalah sebutan bagi para teolog dan pujangga y <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } A:link { color: #0000ff } –>
Zaman Patristik (Bapak Gereja)
Bapa Gereja atau adalah sebutan bagi para teolog dan pujangga yang berpengaruh dan hidup di era awal Gereja Kristen, khususnya mereka yang hidup pada lima abad pertama dalam sejarah Agama Kristen. Sebutan ini digunakan bagi para pujangga dan pengajar Gereja, bukan berarti bahwa tokoh yang bersangkutan harus pula seorang santo. Istilah ini umumnya tidak mencakup para penulis Perjanjian Baru, sekalipun pada masa awal Gereja beberapa karya tulis dari para Bapa Gereja dipandang kanonikal.
Bapa Gereja yang menulis dalam Bahasa Latin disebut Bapa (Gereja) Latin, dan yang menulis dalam Bahasa Yunani disebut Bapa (Gereja) Yunani. Bapa-Bapa Gereja Latin yang termasyhur antara lain Tertulianus yang montanis, St. Augustinus dari Hippo, St. Ambrosius dari Milan, and St. Hieronimus; Bapa-Bapa Gereja Yunani yang termasyhur antara lain St. Irenaeus dari Lyons (karyanya yang masih ada hanya tersedia dalam terjemahan Latin), Klemens dari Alexandria, Origenes yang heterodoks, St. Athanasius dari Alexandria, St. Yohanes Krisostomus, dan ketiga Bapa Kapadokia.
Para Bapa Gereja yang paling awal, yakni dua generasi pertama setelah para Rasul Kristus, biasanya disebut pula para Bapa Apostolik. Bapa-Bapa Apostolik yang ternama antara lain St. Klemens dari Roma, St. Ignatius dari Antiokhia dan Polikarpus dari Smyrna. Selain itu, Kitab Didakhe dan Kitab Gembala Hermas biasanya digolongkan ke dalam karya tulis para Bapa Apostolik meskipun penulisnya tidak diketahui.
Di kemudian hari, menghadapi kritikan dari para filsuf Yunani serta penganiayaan, para Bapa Apologetik menghasilkan karya tulis untuk membenarkan dan membela doktrin Kristiani. Bapa-Bapa yang penting dari era ini antara lain St. Yustinus Martir, Tatianus, Athenagoras dari Athena, Hermias dan Tertulianus.
Para Bapa Gurun adalah para rahib perdana yang hidup di Gurun Mesir; meskipun tidak banyak menghasilkan karya tulis, mereka sangat berpengaruh. Beberapa dari antara mereka adalah St. Anthonius Agung dan St. Pakhomius. Sejumlah besar ucapan-ucapan pendek mereka dihimpun dalam Apophthegmata Patrum.
Sejumlah kecil Bapa Gereja menulis dalam bahasa lain: Santo Efrem, misalnya, menulis dalam bahasa Syria, meskipun karya-karya tulisnya sebahagian besar diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dan Yunani.
Dalam Gereja Katolik Roma, St. Yohanes dari Damaskus, yang hidup pada abad ke-8, secara umum dianggap sebagai Bapa Gereja yang terakhir sekaligus benih perdana dari zaman para pujangga Gereja berikutnya, yakni zaman skolastikisme. St. Bernardus juga kerap disebut sebagai Bapa Gereja yang terakhir.
Gereja Ortodoks Timur tidak beranggapan bahwa zaman para Bapa Gereja telah usai, dan menyebut para pujangga Gereja yang berpengaruh pada masa-masa selanjutnya dengan istilah Bapa Gereja juga.
Studi mengenai Bapa-Bapa Gereja disebut studi Patristik.
Blogger Harus Peduli Pendidikan….
“Hidup itu harus banyak memberi, bukan menerima dan Jangan pernah menyerah dalam menggapai impianmu” Pesan kepala sekolah Muhammadiyah Gantong dalam film Laskar Pelangi
Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain merupakan tindakan mulia, bahkan dalam islam pun diajarkan bahwa amal pahala yang mengalir terus menerus itu adalah ilmu yang bermanfaat. Amalnya akan mengalir selama ilmu itu dimanfaatkan untuk kebaikan.
Sebagai seorang Blogger yang kesehariannya akrab dengan dunia informasi, banyak hal yang bisa dilakukan untuk pedulian dengan dunia pendidikan. Membuat tutorial merupakan sarana berbagi ilmu yang sangat bermanfaat bagi orang lain, sementara menulis tentang peduli pendidikan akan memberikan inspirasi bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Untuk peduli ! mari kita awali dari yang sederhana saja, tulislah potret sosial tentang pendidikan masyarakat golongan grass-root (wong cilik) yang ada di sekitar kita. Photo dan cerita yang menarik akan menyentuh pengunjung blog kita, bisa jadi dengan alamat yang dicantumkan si pembaca memberikan bantuan langsung kepada si objek tulisan.
Untuk Blogger yang sudah mempunyai rezeki dan berniat membantu! Mari kita mendukung program pemerintah Buku Sekolah Elektronik, dengan mendownload kemudian di print untuk dibagikan kepada anak-anak yang tidak mampu, seperti penjelasan saya di SINI
Untuk Blogger yang belum mempunyai rezeki yang lebih dan ingin peduli ! Anda bisa peduli dengan memberikan info beasiswa terbaru kepada siswa-siswa SMU, dengan menempelkan hasil printnya di Majalah Dinding atau papan pengumuman di sekolah-sekolah. Murahkan! cuma bermodalkan beberapa lembar kertas dan Lem. Ayooo kamu bisa !!
Siswa – siswa yang kurang mampu sangat membutuhkan informasi ini. Beasiswa S1 akan membantu mereka dalam mewujudkan impian dan harapan yang hampir terkubur bersama keringat orang tuanya, dimana terus mengucur deras di bumi pertiwi ini. Meski begitu mereka tak pernah mengeluh untuk tidak membayar pajak yang terkadang mereka dengar di TV sering dikorupsi oleh sebagian oknum pejabat laknat.
remaja Islam Remaja Dakwah
Dakwah? Hmm.. kok kayaknya berat banget kedengarannya ya? Lho, emangnya kenapa? Sebagian teman remaja biasanya denger atau ngucapin kata dakwah terasa sangat berat. Telinga pekak en lidah kelu dan yang terbayang di benaknya pasti urusannya dengan jenggot, kopiah, baju koko, sarung, dan jilbab. Well. Nggak salah-salah amat sih. Cuma nggak lengkap penilaiannya.
Lagian juga terkesan adanya pemisahan antara dakwah dan kehidupan umum, gitu lho. Kesannya kalo dakwah adalah bagiannya mereka yang ada di kalangan pesantren atau anak-anak ngaji aja. Anak-anak nongkrong sih nggak tepat kalo berurusan dengan dakwah. Dakwah kesannya jadi tugas mereka yang hobinya dengerin lagu-lagu nasyid macam Demi Masa-nya Raihan. Bukan tugas anak-anak yang hobinya dengerin lagu-lagu pop macam Terima Kasih Cinta-nya Afgan. Halah, itu salah banget, Bro. Nggak gitu deh seharusnya. Sumpah.
Gini nih, sebenarnya urusan dakwah atau tugas dakwah jadi tanggung jawab bersama seluruh kaum muslimin. Cuma, karena tugas dakwah ini cukup berat dan nggak semua orang bisa tahan menunaikannya, jadinya dakwah secara tidak langsung diserahkan kepada mereka yang ngerti aja. Anggapan seperti ini insya Allah nggak salah. Cuma, kalo dengan alasan seperti ini lalu kaum muslimin yang belum ngerti atau masih awam tentang Islam jadi bebas untuk nggak berdakwah, atau nggak mau terjun dalam dakwah, itu tentu salah, Bro. Why? Karena tetap aja punya kewajiban untuk belajar. Tetap punya kewajiban mencari ilmu. Jadi, nggak bisa bebas juga kan? Malah kalo nekat nggak mau belajar dan nggak mencari ilmu, hal itu dinilai berdosa, man! Bener.
Baginda kita, Rasulullah Muhammad saw. bahkan menyatakan bahwa aktivitas belajar dan mencari ilmu adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Kalo mencari ilmu itu adalah wajib, berarti bagi yang nggak mencari ilmu selama hidupnya, jelas berdosa dong. Allah Swt. bahkan menjamin orang-orang yang beriman dan berilmu akan diberikan derajat lebih tinggi dibanding orang yang nggak berilmu (apalagi nggak beriman). Firman Allah Swt.:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)
Bro, emang bener banget. Urusan dakwah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat keilmuan. Dakwah itu jelas membutuhkan ilmu. Jadi, betul kalo dikatakan bahwa tugas berdakwah hanya diberikan kepada mereka yang udah menguasai ilmu agama. Tapi, buat kita yang belum menguasai ilmu agama secara mantap bukan berarti nggak ada kewajiban dakwah. Sebab, rasa-rasanya untuk ukuran sekarang nih, nggak mungkin banget ada kaum muslimin yang nggak ngerti sama sekali tentang Islam. Pasti deh, satu keterangan atau dua keterangan dalam ajaran agama Islam sudah pernah didengarnya dan menjadi pengetahuannya. So, sebenarnya tetap punya kewajiban nyampein dakwah meskipun cuma sedikit yang diketahui. Kalo pengen lebih banyak tahu tentang Islam, ya tentu saja kudu belajar lagi dan mencari ilmu lagi. Sederhana banget kan solusinya? Insya Allah kamu pasti bisa ngejalaninya, asal kamu mau. Yakin deh.
Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?
Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.
Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam. Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai bentuk ‘kecerewetan’ mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. Padahal, justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin melihat saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama syariatnya.
Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita yang masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban dakwah yang handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada orang-orang yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat manusia nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal “kenangan”. Yuk, kita kaji Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Terkini
-
Tautan
-
Arsip
- Maret 2010 (1)
- Desember 2008 (7)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS